Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui secara langsung bagaimana strategi pemasaran yang
dipakai dalam upaya meningkatkan volume penjualan non subsidi pada PT. Pupuk Kaltim Kp Banjarmasin. (2)
mengetahui strategi pemasaran yang dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan volume penjualan non subsidi
pada PT. Pupuk Kaltim Kp Banjarmasin. Perusahaan PT. Pupuk Kaltim Kp Banjarmasin adalah yang bergerak
dalam bidang industri yang menghasilkan produk-produk pupuk seperti Urea, Amonia, Npk Pelangi dan Bio
organik
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang lebih menekankan pada jenis penelitian kualitatif
dan teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan studi kepustakaan.Hasil penelitian menunjukan
1) Penjualan untuk produk pupuk non subsidi ini fluktuatif tergantung dari harga jual yang dikeluarkan pada
saat periode tertentu didasarkan pada 2 faktor, yaitu Harga Pokok Produksi (HPP) dan distribusi. Promosi untuk
produk pupuk non-subsidi urea tidak terlalu dilakukan secara serius karena antara permintaan pupuk non-subsidi
urea dengan kapasitas produksinya tidak seimbang
This study aims to (1) Know firsthand how the marketing strategies used in an effort to increase the
volume of non-subsidized sales at PT. Pupuk Kaltim Kp Banjarmasin. (2) knowing the marketing strategies that
can be applied in an effort to increase the volume of non-subsidized sales at PT. Pupuk Kaltim Kp Banjarmasin.
PT. Pupuk Kaltim Kp Banjarmasin is engaged in the industry that produces fertilizer products such as Urea,
Ammonia, NPP Pelangi and Bio Organic
This research uses descriptive method which emphasizes qualitative research and data collection
techniques by interviewing, observing, and studying literature. The results showed 1) Sales for non-subsidized
fertilizer products fluctuate depending on the selling price incurred at a certain period based on 2 factors,
namely Cost of Production (HPP) and distribution. Promotion for non-subsidized urea fertilizer products is not
done seriously because the demand for non-subsidized urea fertilizers and production capacity is not balanced