Abstract :
Ampas kelapa merupakan salah satu limbah hasil pengolahan kelapa yang masih memiliki kandungan nutrisi dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif. Namun, pemanfaatannya masih terbatas karena kandungan serat kasar yang cukup tinggi sehingga diperlukan teknologi pengolahan untuk meningkatkan kualitas nutrisinya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui proses fermentasi menggunakan ragi tape yang mengandung Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fermentasi ampas kelapa menggunakan Saccharomyces cerevisiae terhadap kandungan serat kasar, protein kasar, serta kualitas fisik berupa aroma, warna, dan tekstur. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu P0 (ampas kelapa tanpa fermentasi/kontrol), P1, P2, P3, dan P4 dengan tingkat perlakuan fermentasi yang berbeda. Parameter yang diamati meliputi kandungan serat kasar, protein kasar, serta kualitas fisik hasil fermentasi. Data kandungan nutrisi dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi ampas kelapa menggunakan ragi tape (Saccharomyces cerevisiae) memberikan pengaruh terhadap kandungan serat kasar dan protein kasar. Fermentasi mampu menurunkan kandungan serat kasar serta meningkatkan kandungan protein kasar. Hasil pengamatan kualitas fisik menunjukkan bahwa fermentasi menyebabkan perubahan karakteristik bahan berupa aroma yang lebih khas fermentasi, perubahan warna, dan tekstur yang menjadi lebih lunak serta lemah. Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan P4 berdasarkan hasil analisis nutrisi dan karakteristik fisik fermentasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan ragi tape (Saccharomyces cerevisiae) dalam fermentasi ampas kelapa mampu meningkatkan kualitas bahan melalui perbaikan kandungan nutrisi dan karakteristik fisik, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif.