Abstract :
Berdasarkan studi pendahuluan di Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara, diketahui bahwa cakupan imunisasi campak tahun 2024 dari 2.996 bayi sasaran hanya mencapai 46,0%, sehingga berpotensi meningkatkan risiko terjadinya penularan campak. Selain itu, pelaporan penemuan kasus suspek campak oleh surveilans Puskesmas hanya mencapai 23% dari target 100%. Kondisi ini menunjukkan belum optimalnya sistem surveilans campak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara pengetahuan, beban kerja, fasilitas kerja, dan kondisi geografis dengan pelaporan penemuan kasus suspek campak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Jumlah responden sebanyak 41 orang yang terdiri dari petugas surveilans dan analis kesehatan Puskesmas, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58,5% responden tidak tepat dalam pelaporan penemuan kasus suspek campak. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan (p=0,02), beban kerja (p=0,038), fasilitas kerja (p=0,014), dan kondisi geografis (p=0,008) dengan pelaporan penemuan kasus suspek campak. Disimpulkan bahwa faktor individu dan faktor lingkungan kerja berpengaruh signifikan terhadap ketepatan pelaporan kasus suspek campak. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara untuk melaksanakan pelatihan berkala serta meningkatkan fasilitas kerja guna mendukung optimalisasi sistem surveilans campak.