Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pengembangan karier dan pelatihan kerja, mendeskripsikan kondisi kinerja karyawan, menganalisis efektivitas pengembangan karier dan pelatihan kerja dalam meningkatkan kinerja karyawan, serta mengidentifikasi kendala pelaksanaannya pada PT Indomarco Prismatama Banjarmasin. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik purposive sampling terhadap lima informan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, analisis efektivitas berdasarkan Model Evaluasi Kirkpatrick, serta penarikan kesimpulan, dengan triangulasi untuk menjamin keabsahan data.\r\nHasil penelitian menunjukkan bahwa program pengembangan karier secara struktural telah memiliki jenjang yang jelas, namun perencanaan karier individual belum berjalan formal, terutama bagi karyawan level pelaksana. Pelatihan kerja masih terkonsentrasi pada level manajemen dengan metode yang bersifat teoritis dan evaluasi pascapelatihan yang lemah, sehingga distribusinya baru menjangkau sekitar 60% peserta dari level menengah ke atas. Karyawan yang telah mengikuti pelatihan menunjukkan pemahaman Standar Operasional Prosedur (SOP) dan perubahan perilaku kerja yang lebih baik dibandingkan karyawan yang belum mengikuti pelatihan.\r\nBerdasarkan Model Evaluasi Kirkpatrick, program pengembangan karier dan pelatihan kerja telah efektif pada tingkat reaksi (reaction), yang ditunjukkan oleh kepuasan peserta terhadap materi dan instruktur meskipun waktu pelaksanaan masih terbatas. Pada tingkat pembelajaran (learning), peserta mengalami peningkatan pemahaman terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) perusahaan. Pada tingkat perilaku (behavior), karyawan yang telah mengikuti pelatihan menunjukkan disiplin kerja dan rasa percaya diri yang lebih baik dibandingkan karyawan yang belum mengikuti pelatihan. Namun, pada tingkat hasil (results), program belum memberikan dampak organisasi yang optimal karena distribusi pelatihan masih terbatas dan sistem transfer pengetahuan antarkaryawan belum berjalan secara efektif. Akibatnya, dampak positif program masih lebih banyak dirasakan pada tingkat individu dan belum mampu meningkatkan kinerja organisasi secara signifikan.