Abstract :
Gandhy Androfo, 18.91.0020, 2020, ?Komunikasi Antar Budaya dalam Konflik Antar Suku serta
Penyelesaiannya pada Suku Dayak dan Madura di Kota Banjarmasin? ?Pembimbing 1. Muzahid Akbar Hayat,
Pembimbing 2. Khuzaini Terjadinya konflik antar suku Dayak dan Madura di kota Banjarmasin karena
ketersinggungan terhadap kata yang diucapkan oleh seorang warga suku Madura dan juga ada spanduk yang
memprovokasi jadi diperlukan mediasi dan negosiasi agar tidak terulang peristiwa konflik serupa di Sampit.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji dan menganalisis bagaimana peranan bahasa dalam komunikasi
antar budaya dalam penyelesaian konflik antar Suku pada kasus Suku Dayak dan Madura di Kota Banjarmasin,
bagaimana mediasi dan negosiasi dalam penyelesaiannya konflik antar Suku pada kasus Suku Dayak dan
Madura di Kota Banjarmasin, dan bagaimana faktor pendukung dan faktor penghambat dalam komunikasi
antar budaya dalam penyelesaiannya konflik Antar Suku pada kasus Suku Dayak dan Madura di Kota
Banjarmasin. Jenis penelitian kualitatif yang menggunakan data berupa kalimat, kata atau gambar dan data
yang bukan dalam bentuk skala rasio. Tipe penelitian adalah kualitatif deskriptif. Penelitian dilaksanakan pada
bulan April 2020 sampai dengan bulan Juni 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Peranan bahasa
dalam komunikasi antar budaya adalah bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif dalam
menyelesaikan konflik antar suku. 2) Mediasi dan negosiasi yang dilaksanakan bisa berjalan baik dengan hasil
mediasi dan negosiasinya keluarga pelaku dari suku Madura membayar 500 kati ganti rugi atau sebesar ± 300
juta kepada keluarga korban (suku Dayak). 3) Hambatan dalam proses komunikasi apabila bahasa yang
dipergunakan dalam berkomunikasi tidak dimengerti oleh orang lain sebagai penerima pesan komunikasi.
Kesalahan dalam menangkap pengertian terhadap bahasa biasanya dapat terjadi karena perbedaan latar
belakang budaya. Disarankan bagi masyarakat bisa lebih memahami bagaimana dinamika kehidupan
masyarakat yang majemuk, serta bisa menangani hambatan-hambatan komunikasi antar budaya
Gandhy Androfo, 18.91.0020, 2020, "Intercultural Communication in Inter-Ethnic Conflicts and the resolution
of Dayak and Madura in Banjarmasin City" "Supervisor 1. Muzahid Akbar Hayat, Advisor 2. Khuzaini The
conflict between the Dayak and Madura tribes in the city of Banjarmasin occurred because of offense against
a word uttered by a Madura and there was also a provoking banner so that mediation and negotiation were
needed so that a similar conflict incident in Sampit was not repeated. The purpose of this research is to examine
and analyze how the role of language in intercultural communication in resolving conflicts between tribes in
the case of the Dayak and Madura in Banjarmasin, how to mediate and negotiate in the resolution of interethnic conflicts in the case of the Dayak and Madura tribes in Banjarmasin City, and how are the supporting
factors and inhibiting factors in intercultural communication in resolving inter-ethnic conflicts in the case of
the Dayak and Madura tribes in Banjarmasin City. This type of qualitative research uses data in the form of
sentences, words or images and data that is not in the form of a ratio scale. This type of research is descriptive
qualitative. The research was carried out from April 2020 to June 2020. The results showed that: 1) The role
of language in intercultural communication is that language is the most effective means of communication in
resolving conflicts between tribes. 2) The mediation and negotiations carried out can run well with the results
of the mediation and the negotiations that the Madura family of the perpetrator has paid 500 kati of
compensation or ± 300 million to the victim's family (Dayak tribe). 3) Obstacles in the communication process
if the language used in communication is not understood by other people as recipients of the communication
message. Mistakes in understanding the meaning of language can usually occur due to differences in cultural
backgrounds. It is suggested that the public can better understand how the dynamics of a pluralistic community
life and be able to deal with communication barriers between cultures.