Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan limbah jamu dalam ransum terhadap
persentase karkas dan lemak abdominal ayam broiler. Penelitian ini mengunakan ayam broiler strain Ross
sebanyak 100 ekor yang dibagi menjadi 5 perlakuan, dan masing-masing perlakuan terdiri dari 4 ulangan, setiap
perlakuan terdiri dari 5 ekor (masing-masing petak diambil 2 ekor) dengan cara penimbangan berat badan dan
dihitung berdasarkan rata-rata per petak.
Ransum perlakuan terdiri dari P0 (pakan komersial), P1 (pakan komersial + 1 % limbah jamu), P2
(pakan komersial + 2 % limbah jamu), P3 (pakan komersial + 3 % limbah jamu), dan P4 (pakan komersial + 4
% limbah jamu). Variabel yang diamati adalah berat potong (g), persentase berat karkas (%), berat lemak
abdominal (g), dan persentase lemak abdminal (%). Metode analisis data mengunakan analisis ragam mengikuti
pola Rancangan Acak Lengkap (RAL), apabila menunjukan hasil yang berbeda nyata maka di lanjutkan dengan
uji wilayah berganda Duncan?s Multiple Range Test (DMRT).
Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan limbah jamu dalam ransum berpengaruh nyata
terhadap berat potong, berat karkas, berat lemak abdominal dan persentase berat lemak abdominal. Dan tidak
berpengaruh nyata terhadap persentase karkas. Berat potong tertinggi pada perlakuan P4 (1415,75 g/ekor), berat
karkas tertinggi pada perlakuan P4 (1054,50 g/ekor), persentase karkas tertinggi pada perlakuan P1 (75,27 %),
berat lemak abdominal terendah pada perlakuan P4 (19,50 g/ekor), dan persentase berat lemak abdominal
terendah pada perlakuan P4 (1,85 %).
This study aims to determine the effect of using herbal waste in the ration on the percentage of carcass
and abdominal fat of broiler chickens. This study used 100 broilers of Ross strain which were divided into 5
treatments, and each treatment consisted of 4 replications, each treatment consisted of 5 birds (each plot was
taken 2 tails) by weighing the body weight and calculated based on the average -average per plot.
The treatment rations consisted of P0 (commercial feed), P1 (commercial feed + 1% herbal waste), P2
(commercial feed + 2% herbal waste), P3 (commercial feed + 3% herbal waste), and P4 (commercial feed + 4 %
herbal waste). The variables observed were slaughter weight (g), carcass weight percentage (%), abdominal fat
weight (g), and abdominal fat percentage (%). The data analysis method uses analysis of variance following the
pattern of Completely Randomized Design (CRD), if it shows significantly different results, it is continued with
Duncan's Multiple Range Test (DMRT).
The results showed that the addition of herbal waste in the ration had a significant effect on slaughter
weight, carcass weight, abdominal fat weight and percentage of abdominal fat weight. And no significant effect
on the percentage of carcass. The highest slaughter weight was in treatment P4 (1415.75 g/head), the highest
carcass weight was in treatment P4 (1054.50 g/head), the highest carcass percentage was in treatment P1 (75.27
%), the lowest abdominal fat weight was in treatment P4 (19.50 g/head), and the lowest percentage of
abdominal fat weight was in treatment P4 (1.85%).