Abstract :
Istirahatlah Kata-Kata merupakan film yang mencoba mengungkap peran
Dwifungsi ABRI di masa Orde Baru. Film ini merupakan kisah perjalanan
hidup Wiji Thukul sebagai aktivis yang dikenal dengan puisi-puisinya. Salah
satu jargon yang akrab dikalangan aktivis adalah ?lawan?. Untuk itu
Penelitian ini bertujuan melihat scene-scene dalam film ?Istirahatlah KataKata? yang merepresentasikan ABRI dalam relasi sipil-militer. Hal ini
dilatarbelakangi dugaan adanya ketidakadilan ABRI dalam menjalankan
Dwifungsinya. Peneliti menggunakan paradigma kritis agar dapat
menemukan makna denotasi, konotasi dan mitos dari representasi ABRI.
Temuan penelitian menunjukakn adanya sejumlah mitos. Pertama, representasi ABRI yang ditemukan dalam film ini adalah hegemoni melalui kebijakan Dwifungsi ABRI. Kedua, peneliti menemukan representasi ABRI digambarkan dalam bentuk militerisme dalam relasi sipil-militer. Ketiga, representasi ABRI dalam relasi sipil-militer digambarkan dalam bentuk tindakan represif ABRI. Terakhir, pembuatan film ini tidak semata-mata hanya ingin menceritakan kisah perjalanan hidup Wiji Thukul saja, film ini menjadi wacana pencerahan dengan memberitahu bagaimana kelompok dominan berusaha untuk membangun ideologi dengan cara mereproduksi dan legitimasi dominasi mereka. Kedepannya perlu dilakukan penelitian analisis resepsi ABRI dalam relasi sipil-militer dikalangan masyarakat.
Kata kunci: Representasi, Dwifungsi ABRI, Hegemoni, Wiji Thukul, Istirahatlah Kata-Kata