Abstract :
Pemilih muda dalam kategori politik adalah masyarakat muda yang
berusia 17-30 tahun. Orientasi politik pemilih muda ini selalu dinamis dan akan
berubah-ubah mengikuti kondisi yang ada dan faktor ?faktor yang
mempengaruhinya. Termasuk juga yang terjadi pada penurunan tingkat partisipasi
politik pemilih muda saat ini. Partisipasi politik yang rendah pada umumnya
mengindikasikan bahwa rakyat kurang menaruh apresiasi atau minat terhadap
masalah atau kegiatan kenegaraan. Rendahnya tingkat partisipasi politik rakyat
direfleksikan dalam sikap golongan putih (golput) dalam pemilu.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi komunikasi politik Ayo
Vote melalui Twitter dalam meningkatkan partisipasi politik pemilih muda.
Penelitian ini adalah penelitian kualitaitif dengan desain deskriptif. Hasil
penelitian ini menunjukkan strategi komunikasi politik Ayo Vote dalam
memahami khalayak, Ayo Vote menemukan bahwa sebagian besar pemilih muda
apatis terhadap politik. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor
pendidikan, ekonomi, lingkungan sosial dan media sosial, sehingga penggunaan
media sosial dirasa efektif untuk menjaring pemilih muda.
Dalam penyusunan pesan-pesan komunikasi di Twitter, Ayo Vote
menyesuaikan situasi dan kondisi pemilih muda dengan menggunakan metode
redundancy (mengulang-ulang), canalizing (saluran dan kelompok tertentu),
informative dan educative. Untuk pemilihan media sendiri Ayo Vote
menggunakan keseluruhan media, baik online maupun offline. Namun yang
menjadi media utama adalah Twitter. Dari strategi komunikasi politik yang
dilakukan oleh Ayo Vote di harapkan dapat menjadi acuan untuk organisasi
politik lainnya dalam merumuskan serta membuat strategi yang nantinya akan di
gunakan dalam meningkatkan partisipasi politik pemilih muda
Kata Kunci: strategi komunikasi politik, media sosial, twitter, Ayo Vote