Abstract :
Beberapa kawasan di Wilayah Pesisir Kota Semarang tiap tahunnya mengalami penurunan tanah mencapai 10 cm (Kodoatie dalam BBC Indonesia, 2007). Kondisi ini memperluas daerah yang terkena bencana banjir air laut (Rob). Baru-baru ini kondisi fisik, pemukiman nelayan semakin parah. Selama
periode banjir pasang semua jalan dan jalur kampung tergenang. Kondisi lingkungan yang buruk menyebabkan perubahan sistem aktivitas penduduk, perubahan budaya ataupun gaya hidup dalam masyarakat akan berkorelasi dengan perubahan organisasi tata ruang suatu daerah, Pada saat ini 65% penduduk Pulau
Jawa hidup di daerah pesisir dan sangat bergantung pada sumber daya pesisir, tidak jarang mereka memilih menetap dikarenakan sudah beradaptasi akan keadaan seperti itu, Adapun dalam hal ini kajian yang akan dibahas mengenai arsitektur apung, dengan bagaimana pengaplikasiannya dalam perancangan Kawasan
Kampung Apung, sebagai bentuk respon pada kerentanan permukiman penduduk yang akan tenggelam oleh bencana banjir rob. Metode yang digunakan yaitu melalui metode deskriptif dengan metode dokumentatif. Pengembangan arsitektur
apung sudah sangat berkembang, hingga memiliki berbagai varian struktur hingga material apung yang dapat diterapkan pada bangunan dengan tipologi tertentu. Perancangan Kampung Nelayan Tambak Mulyo dengan menerapkan Pendekatan
Floating Architecture menjadi solusi rancangan yang efektif dan responsive terhadap fenomena alam yang terjadi saat ini.
Kata Kunci : Banjir Rob, Permukiman Pesisir, Arsitektur Apung