DETAIL DOCUMENT
PENDIDIKAN LOKAL SEBAGAI KONTRA WACANA: EKSISTENSI SOKOLA INSTITUTE SEBAGAI PENYOKONG HAK AKTOR SUBALTERN DALAM UPAYA DEKOLONISASI PENDIDIKAN
Total View This Week0
Institusion
Universitas Diponegoro
Author
SHAFIRA, KHANSA TALITHA JASMINE
Subject
Social Science and Political Science 
Datestamp
2025-01-16 02:18:56 
Abstract :
Bekas peninggalan era kolonial di Indonesia tertanam secara diskursif pada berbagai sektor, salah satunya dalam sistem pendidikan. Dalam praktiknya, pendidikan yang cenderung well-established masih memiliki celah dalam implementasinya yang mengakibatkan terhambatnya pemenuhan hak atas pendidikan bagi kelompok masyarakat Subaltern Indonesia. Celah tersebut hadir dalam wujud tendensi Eropasentrisme pada sistem pendidikan Indonesia yang kemudian semakin didorong oleh keberadaan kapitalisme dan globalisasi. Konstruksi pemikiran dan bentuk upaya konkret mengenai praktik edukasi lokal telah dilakukan oleh Sokola Institute sebagai Non-Governmental Organization (NGO) yang berfokus pada pengedukasian kelompok minoritas di Indonesia yang haknya terus terhambat oleh wacana dominan sebagai pemegang kebenaran sejati. Sokola muncul sebagai reaksi dalam hubungan kausalitas dengan sistem pendidikan Eropasentris Indonesia. Peneliti memanfaatkan teori Poskolonialisme dalam meninjau penyebab ketidakcocokan pendidikan Eropasentris Indonesia terhadap kelompok Subaltern dan teori Counter-discourse untuk mengkaji mengenai implikasi HGES pada aktivisme Sokola Institute dalam menantang paradigma pendidikan liberal sebagai studi kasus. Penelitian kualitatif ini memanfaatkan data dari desk research dan wawancara untuk melakukan Critical Discourse Analysis (CDA). Dalam penelitian ini ditemukan bahwa celah ketidaksesuaian sistem pendidikan Eropasentris di Indonesia terjadi karena adanya perbedaan mendasar dalam ragam dan kultur masyarakatnya. Sistem pendidikan yang cenderung monokultur terbukti belum mampu mewadahi kebutuhan masyarakat yang multikultur. keberadaan ketidaksesuaian ini akan melahirkan disparitas diantara masyarakat dan memunculkan stigma tidak terdidik pada kelompok masyarakat Subaltern. Dengan mempertahankan sistem ini, pemenuhan hak atas pendidikan kelompok Subaltern akan terus terhambat dan akan muncul potensi terjadinya homogenitas budaya. Karena itu, praktik Kontra Wacana dalam upaya dekolonisasi pendidikan menjadi esensial. Praktik percontohan Sokola dinilai sesuai dengan HGES sebagai sebuah standar asesmen praktik pendidikan yang berdiri atas realitas lokal Indonesia. Sehingga, aktivisme Sokola dapat dijadikan percontohan bagi pemerintah dalam menjangkau masyarakat Subaltern Indonesia. Kata Kunci: Sistem pendidikan Eropasentris, Poskolonialisme, Sokola Institute, Kontra Wacana, Home-Grown Education System (HGES). 85. Hubungan Internasional 2024 
Institution Info

Universitas Diponegoro