DETAIL DOCUMENT
Kadar Malondialdehyde (MDA) dan Feritin Serum Sebagai Faktor Risiko Kejadian Disfungsi Ginjal. Studi Pada Pasien Talasemia-β Mayor Anak Multitransfusi Yang Mendapatkan Terapi Kelasi Besi
Total View This Week0
Institusion
Universitas Diponegoro
Author
Prabawanti, Riz'kiyah
Rachmawati, Banundari
Limijadi, Edward Kurnia Setiawan
Subject
Medicine 
Datestamp
2024-12-18 08:32:40 
Abstract :
Latar belakang: Disfungsi ginjal pada talasemia-? mayor dapat terkait dengan anemia kronis, iron overload, serta stres oksidatif. Malondialdehyde (MDA), sebagai petanda stres oksidatif, dan feritin serum sebagai petanda iron overload, memiliki peran signifikan dalam menggambarkan fungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan menilai kadar MDA dan feritin serum sebagai faktor risiko kejadian disfungsi ginjal pada pasien talasemia-? mayor anak multitransfusi yang mendapatkan terapi kelasi besi Metode: Penelitian cross-sectional terhadap 80 pasien talasemia-? mayor anak usia 6 ? 17 tahun, mendapat transfusi darah >20 kali per tahun, dan terapi kelasi besi >1 tahun di RSUP dr. Kariadi Semarang, Juli - September 2024. Sampel darah digunakan untuk memeriksa kadar MDA, feritin dan kreatinin serum. Subjek dikelompokan berdasarkan disfungsi ginjal yang dihitung dengan eGFR formula Schwartz yang dimodifikasi. Nilai p < 0,05 dianggap bermakna. Hasil: Sebanyak 63 subjek penelitian (78,8%) memiliki disfungsi ginjal. Kadar MDA ? 384 ng/mL (RP 3,38; 95% CI 1,72-6,66; p <0,001) dan feritin serum ? 2500 ng/mL (RP 1,31; 95% CI (1,04-1,66); p = 0,038) secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya disfungsi ginjal. Simpulan: Kadar MDA ? 384 ng/mL dan feritin serum ? 2500 ng/mL pada pasien talasemia-? mayor anak multitransfusi yang mendapatkan terapi kelasi besi berisiko terjadi disfungsi ginjal. Kata Kunci: talasemia, malondialdehyde, feritin, transfusi, kelasi besi 
Institution Info

Universitas Diponegoro