Institusion
Universitas Diponegoro
Author
Mazidah, Afina
Ismail, Akhmad
Purnawati, Ratna Damma
Subject
Medicine
Datestamp
2024-12-16 02:44:55
Abstract :
Latar belakang: Diabetes melitus (DM) adalah penyakit akibat ketidakmampuan tubuh dalam memproduksi insulin secara adekuat. Studi untuk menemukan strategi pengobatan efektif DM terus dilakukan. Tikus sebagai model hewan coba berperan krusial dalam eksplorasi agen terapi DM. Model hewan coba nongenetik tengah berkembang pada penelitian DM saat ini. Agen diabetogenik yang banyak digunakan adalah alloxan (ALX) dan streptozotocin (STZ). Sebagai organ yang rentan terhadap
toksisitas, kerusakan ginjal memengaruhi viabilitas hewan coba.
Tujuan: Membuktikan perbedaan antara ALX dan STZ dalam menginduksi DM pada tikus Wistar (Rattus norvegicus) ditinjau dari kadar ureum, kreatinin, dan gambaran histopatologi ginjal.
Metode: Jenis penelitian true experimental dengan rancangan post-test only control group design. Sampel penelitian berupa 42 ekor tikus Wistar yang terbagi dalam satu kelompok kontrol, tiga kelompok perlakuan ALX, masing-masing diberikan dosis 120, 150, dan 180 mg/kgBB, serta tiga kelompok perlakuan STZ, masing-masing diberikan dosis 20, 40, dan 60 mg/kgBB.
Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar ureum serum antara kelompok ALX dan STZ. Kadar kreatinin serum pada kelompok STZ 20 mg/kgBB lebih tinggi secara bermakna dibandingkan ALX 120 dan 150 mg/kgBB. Ditinjau dari derajat histopatologi ginjal, STZ dosis 20 dan 40 mg/kgBB menimbulkan kerusakan lebih sedikit dibandingkan ALX 150 dan 180 mg/kgBB.
Kesimpulan: ALX dan STZ memiliki efek nefrotoksik pada hewan coba. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada kadar ureum (p=0,08), tetapi terdapat perbedaan bermakna pada kadar kreatinin dan
gambaran histopatologi ginjal tikus Wistar.
Kata kunci: Tikus Wistar, Alloxan (ALX), Streptozotocin (STZ), ureum, kreatinin, histopatologi ginjal.