Abstract :
Riset ini merupakan studi yang mengamati bagaimana operansi kekuasaan berjalan
dalam kelindan pengetahuan. Berbeda dengan penelitian umumnya yang menelisik
kekuasaan sebagai sebuah efek institusionalisme yang terstruktur secara vertikal
(mengusai-dikuasai), penelitian ini justru berhasrat untuk menemukan struktur
wacana yang ditopang oleh pengetahuan. Kelindan antara kekuasaan dan
pengetahuan yang dimaksud adalah mengenai kuasa gaib dalam dunia perdukunan
yang dianggap mampu untuk membantu memenangkan kontestasi politik pada level
desa (pilkades). Dengan meminjam pisau analisis arkeologi pengetahuan dan
genealogi kekuasaan dari Foucault, penulis melakukan kajian untuk menemukan
basis konstruksi pengetahuan yang menjustifikasi eksistensi perdukunan dalam
pemilihan kepala desa. Adapun wacana kemenangan merupakan area yang
ditawarkan dalam orkestrasi kekuasaan melalui pengetahuan dari praktik
perdukunan. Untuk mengisi wacana tersebut, ditemukan 2 simpul pengetahuan
yang saling terikat. Pertama adalah keyakinan adanya sosok ?danyang? sebagai
penentu kemenangan. Kedua, proses ritual ghaib sebagai arkeologi pengetahuan
yang menjadi prasyarat untuk meraih dukungan danyang. Akan tetapi ikatan simpul
pengetahuan yang terjalin sangatlah rapuh. Ketika kemenangan seperti yang
ditawarkan dukun tidak dapat diraih, alasan yang muncul hanyalah pembenaranpembenaran atas sebuah kesalahan. Pada akhirnya, tidak penting semua simpul
pengetahuan tersebut benar atau tidak, yang penting tidak boleh salah.
Kata Kunci: Dukun, Kuasa Ghaib, Pengetahuan, Pilkades.
179/PEM/2024