Abstract :
Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar, yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Salah satu wilayah yang berpotensi menghasilkan panas bumi yaitu Kawasan Gunung Telomoyo, Jawa Tengah. Pada
penelitian ini identifikasi area potensi panas bumi dilakukan dengan pengintegrasian teknologi penginderaan jauh dan metode gaya berat. citra Landsat 8 Level 2 Science Product (L2SP) digunakan untuk menganalisis suhu permukaan
tanah dan kerapatan vegetasi, serta data Global Gravity Model Plus untuk menghasilkan peta anomali bouguer residual. Selain itu, Data digital elevation model (DEM) dapat mendelinasi kelurusasn yang mengidentifikasi zona permeable. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan korelasi antar data
parameter menggunakan uji korelasi spearman dan menentukan area potensi panas bumi menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan melakukan weighted
overlay. Hasil penelitian menunjukkan korelasi tinggi antara NDVI dan LST (-0,7), korelasi sedang antara NDVI dengan kerapatan lineamen (-0,43), kerapatan lineamen dengan LST (-0,49), serta anomali bouguer residual dengan LST (-0,43).
Korelasi rendah ditemukan antara anomali bouguer residual dengan NDVI (0,31) dan kerapatan lineamen (0,39). area dengan potensi panas bumi rendah hingga sangat rendah mencakup 9.798,21 Ha atau 41,409%. Meskipun terdapat indikasi
aktivitas geotermal, seperti mata air hangat di Candi Umbul, Pakis Dadu, dan Candi Dukuh, wilayah ini tidak menjadi prioritas eksplorasi, meskipun tetap memiliki potensi yang perlu diperhatikan. Sementara itu, area dengan potensi panas bumi
sedang mencakup 6.031,89 Ha atau 25,492%. Adapun area dengan potensi panas bumi tinggi hingga sangat tinggi mencakup 4.220,64 ha atau 17,83%, yang dapat menjadi prioritas untuk eksplorasi panas bumi lebih lanjut. Area dengan potensi tinggi hingga sangat tinggi ini terletak di kecamatan Banyubiru, Jambu, Grabag, dan Ngablak.