Abstract :
Konten boys love yang digemari oleh fujoshi berfungsi sebagai stimulan bagi
khalayaknya dan mendorong terciptanya pandangan positif terkait kaum gay.
Fujoshi yang hidup di tengah kebudayaan heteronormatif menerima berbagai
macam stimulan tentang kaum gay dan mereka tidak berasal dari latar belakang
yang seragam, sehingga persepsi tentang kaum gay yang ada di benak fujoshi dapat
berbeda antara satu dengan yang lain. Penelitian ini mencoba mencari tahu
bagaimana persepsi fujoshi terhadap kaum gay dan bagaimana implikasinya
terhadap relasi komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan
deskriptif kualitatif untuk mengeksplor fenomena melalui wawancara mendalam
dengan para partisipan dan menginterpretasikannya dengan analisis konsep
persepsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa aspek yang
berperan dalam proses pembentukan persepsi fujoshi terhadap kaum gay di
antaranya konsistensi, pemenuhan persepsi, dan kebaruan. Konsistensi dan
pemenuhan persepsi berkaitan dengan persepsi sosial dari struktur sosial di sekitar
fujoshi yang sebelumnya sudah ada terkait laki-laki feminin yang diidentikkan
dengan penyuka sesama jenis. Hal ini menunjukkan adanya peran latar belakang
sosial terhadap pembentukan persepsi fujoshi. Akan tetapi, fujoshi tidak
sepenuhnya mendasarkan persepsi mereka pada persepsi sosial yang sudah ada,
melainkan membangunnya melalui berbagai sudut pandang dan informasi variatif
yang berkaitan dengan aspek kebaruan. Secara keseluruhan, persepsi yang
terbentuk di benak fujoshi terkait kaum gay cenderung positif dan mendorong
terjalinnya relasi komunikasi yang setara antara fujoshi dengan kaum gay. Fujoshi
tidak mempermasalahkan orientasi seksual gay, bagaimana penampilan mereka,
gaya komunikasi mereka, bagaimana mereka mengekspresikan cinta, ataupun
religiusitas mereka. Bagi fujoshi setiap orang memiliki nilai dan kepribadiannya
masing-masing yang membuat orang lain nyaman untuk berinteraksi dengan
mereka.
Kata kunci: Fujoshi, Boys Love, Persepsi, Gay