Abstract :
Kemunculan fenomena eco-anxiety di tengah urgensi krisis iklim telah menjadi masalah baru. Berbagai temuan telah menunjukkan dampak negatif yang ditimbulkan dari fenomena tersebut. Seiring dengan peningkatan penggunaannya, peran media sebagai jembatan informasi, termasuk informasi perubahan iklim, telah
berkontribusi pada peningkatan kesadaran akan isu tersebut. Namun, eksistensi fenomena eco-anxiety di Indonesia tetap tak terelakkan. Selain itu, keyakinan akan kemampuan diri dalam mengatasi suatu masalah kerap mendasari munculnya
perasaan negatif. Karenanya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh terpaan media terkait perubahan iklim dan self-efficacy terhadap tingkat eco-anxiety pada generasi Z di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis regresi berganda (Multiple Regression Analysis) untuk menguji hipotesis. Media Dependency Theory dan Social Cognitive Theory digunakan untuk menjelaskan pengaruh antar variabel dalam hipotesis. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 250 generasi Z yang pernah membaca/melihat/mendengar informasi
terkait perubahan iklim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tidak terdapat pengaruh terpaan media terkait perubahan iklim terhadap tingkat eco-anxiety pada generasi Z di Indonesia dengan signifikansi 0.199 (> 0.05), (2) terdapat pengaruh negatif dari selfefficacy terhadap tingkat eco-anxiety pada generasi Z di Indonesia dengan signifikansi 0.004 (< 0.05), dan (3) terdapat pengaruh simultan dari terpaan media terkait perubahan iklim dan self-efficacy terhadap tingkat eco-anxiety pada generasi Z di Indonesia dengan signifikansi 0.016 (<0.05) dengan besaran pengaruh 3.3%.
Kata Kunci: Eco-anxiety, Perubahan Iklim, Self-efficacy, Terpaan Media.