Abstract :
Industri manufaktur merupakan sektor yang memberikan kontribusi
terbesar terhadap PDB Indonesia. Dengan kontribusi tersebut industri
manufaktur dikatakan sebagai penggerak dan pendorong pertumbuhan
ekonomi nasional. Terlepas dari potensi-potensi tersebut, permasalahan yang
terjadi dalam industri manufaktur adalah kinerja yang belum optimal.
Kontribusi industri manufaktur mengalami penurunan selama tahun 2014 ?
2019. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat efisiensi
teknis serta mengetahui dan menganalisis variabel-variabel yang diduga
menyebabkan inefisiensi pada sektor industri manufaktur sedang dan besar
Indonesia berdasarkan KBLI dua digit.
Penelitian ini menganalisis 23 sektor industri manufaktur sedang dan
besar Indonesia berdasarkan KBLI dua digit pada tahun 2014 ? 2020. Jenis
data yang digunakan ialah data sekunder dalam bentuk panel data yang
diperoleh dari laporan publikasi Badan Pusat Statistik berupa publikasi
statistik industri manufaktur Indonesia. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan model fungsi
produksi transcendental logaritmik (translog) dengan menggunakan software
Frontier 4.1. Variabel determinan inefisiensi yang digunakan pada penelitian
ini adalah intensitas energi. Penelitian ini juga memasukkan dua variabel
kontrol, yaitu rasio K/L dan jumlah perusahaan dengan penanaman modal
asing (PMA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja sektor industri manufaktur
sedang dan besar Indonesia berdasarkan KBLI dua digit belum optimal,
karena dilihat dari nilai efisiensi teknisnya yang rendah. Nilai efisiensi teknis
yang didapatkan sebesar 0.832. Hasil estimasi model SFA menunjukkan
bahwa intensitas energi berpengaruh positif terhadap inefisiensi teknis sektor
manufaktur. Semakin besar tingkat intensitas energi yang digunakan, maka
semakin rendah pula nilai efisiensi teknis yang diperoleh. Rasio modal dan
tenaga kerja juga berpengaruh positif terhadap inefisiensi teknis. Semakin
besar rasio belanja modal yang dikeluarkan untuk tenaga kerja, maka semakin
sulit pula mencapai efisiensi teknis, atau dapat dikatakan nilai efisiensi teknis
semakin rendah. Variabel jumlah perusahaan dengan penanaman modal asing
yang dimiliki oleh setiap sektor berpengaruh negatif terhadap inefisiensi
teknis. Sektor dengan jumlah perusahaan dengan modal asing yang lebih
banyak, maka nilai efisiensi teknisnya lebih tinggi