Abstract :
Pembangunan tol tanggul laut Semarang- Demak (TTLSD) merupakan Proyek Strategis
Nasional (PSN) yang dibangun untuk meningkatkan konektivitas di Pantura sekaligus
menangani rob yang terjadi diwilayah Semarang. Namun pembangunan ini menuai
kontroversi di masyarakat sehingga muncul perlawanan terhadap pembangunan TTLSD,
dimana hal ini tentunya menjadi masalah yang harus dikaji lebih dalam. Penilitian ini
mengkaji bagaimana munculnya perlawanan masyarakat terhadap pembangunan TTLSD
beserta bentuk dan dampaknya. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan desain penelitian
studi kasus. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa perlawanan masyarakat Tambakrejo
terhadap proyek tol tanggul laut Semarang-Demak disebabkan oleh kerugian ekonomi
meliputi berkurangnya hasil tangkap nelayan dan rusaknya rumpon budidaya kerang hijau.
Berbagai bentuk perlawanan telah dilakukan seperti aksi solideritas menuntut ganti rugi
rumpon kerang hijau. Perlawanan ini menjadikan masyarakat semakin sadar terhadap isu ini,
meskipun tuntutan masyarakat tidak terpenuhi namun pengembang menawarkan solusi yaitu
pembukaan 600 lowongan pekerjaan dan juga penggantian media budidaya kerang hijau
berupa bambu. Meskipun masyarakat Tambakrejo menunjukkan perlawanan terhadap
pembangunan TTLSD melalui berbagai bentuk advokasi dan negosiasi, proses pembangunan
tetap berlanjut tanpa adanya intervensi yang signifikan dari pemerintah pusat; meskipun
beberapa langkah mediasi diambil oleh pihak pemerintah daerah dan pengembang, dampak
negatif terhadap ekonomi lokal dan hak-hak masyarakat masih tetap ada, yang mencerminkan
ketidak seimbangan dalam proses pengambilan keputusan terkait pembangunan infrastruktur.
Kata Kunci: Perlawanan Warga, Tol Tanggul Laut Semarang- Demak, Tambakrejo