Abstract :
Kualitas udara memiliki korelasi dengan angka gangguan pernapasan ,hal ini ditunjukan dengan data WHO dimana polusi udara menjadi penyebab 3,8 juta kematian dini. Pemantauan kualitas udara di DKI Jakarta melalui ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) yang berada di 4 titik yaitu Lubang Buaya, Bundaran HI, Kebun Jeruk, Jagakarsa, dan Kelapa Gading. Di tahun 2023 wilayah yang paling banyak mendapatkan status tidak sehat adalah Lubang Buaya, dimana pajanan PM2,5 melebihi 100 µg/m3, dengan nilai per hari berada diatas 55 µg/m3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi gejala gangguan pernapasan pada pedagang kaki lima di Lubang Buaya. Jenis penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional dengan total population sampling berjumlah 51 sampel. Analisis data menggunakan metode Chi Square. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan antara masa kerja (p-value = 0,025, PR = 6,214) dengan gejala gangguan pernapasan, dan tidak ada hubungan antara lama kerja (p-value = 0,404, PR = 0,837), kebiasaan merokok (p-value = 0,352, PR = 2,071), penggunaan APD (p-value = 0,914, PR = 0,918), kadar PM2,5 (p-value = 0,865, PR = 1,161). Terdapat hubungan antara masa kerja dengan gejala gangguan pernapasan pada pedagang kaki lima di Lubang Buaya.
Kata kunci : Gejala Gangguan Pernapasan, Pedagang Kaki Lima, Udara