Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandanganmahasiswi Undip terkait praktik mencuci pembalut dan apa yangmelatarbelakangi perilaku tersebut, serta apa fungsi kebiasaan mencuci pembalut
pada 7 mahasiswi Universitas Diponegoro, Kota Semarang. Penelitianini
merupakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian lapangan etnografi danstudi kasus menggunakan teori Behaviorisme Skinner dan teori StrukturalismeLevi-Strauss. Peneliti melakukan pengumpulan data dengan observasi pasif danwawancara mendalam kepada 7 Mahasiswi Undip. Hasil penelitian menunjukkanbahwa menurut para informan, pembalut sekali pakai memang perlu untuk dicuci
sebelum dibuang agar tidak diganggu oleh hal-hal mistis. Persepsi informanini
terbentuk oleh faktor budaya seperti latar belakang suku dan adat, faktor
lingkungan, pengalaman dan pola asuh dari orang tua. Mitos keharusan mencuci
pembalut kemudian menjadi sesuatu yang dipercayai oleh masyarakat danmenjadi kepercayaan rakyat. Kepercayaan rakyat (folklore) sendiri menyangkut
kepercayaan dan kebiasaan. Fungsi mencuci pembalut di lingkungan masyarakat, di antaranya terkait aspek kesehatan, seperti higienis dan tidak mencemari
lingkungan. Fungsi mitos tentang keharusan mencuci pembalut juga diyakini bisamenjadi pengontrol sosial dalam masyarakat. Hal yang semula mitos dapat
menjadi suatu kebenaran yang merupakan hasil penemuan yang rasional. Parainforman berusaha merasionalkan alasan mengapa pembalut itu harus tetap dicuci
sebelum dibuang sehingga pada titik ini mitos terhadap keharusan mencuci
pembalut menjadi fenomena yang bisa dibenarkan.