Abstract :
Sektor pertanian informal di Indonesia memainkan peran penting dalam perekonomian dan pemenuhan kebutuhan pangan. Namun, kondisi kerja di sektor informal sering kali diabaikan, termasuk penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Salah satu tantangan yang dihadapi adalah keluhan muskuloskeletal seperti nyeri leher. CV Prima Tani Wonosobo, sebuah perusahaan agribisnis informal, menggunakan tenaga manusia secara dominan dalam proses produksinya. Berdasarkan hasil studi pendahuluan kepada 3 pekerja menunjukkan bahwa pekerja sering mengalami keluhan nyeri leher akibat posisi kerja yang tidak ergonomis, seperti duduk di kursi tanpa sandaran dengan posisi menunduk dalam waktu lama. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan keterbatasan gerak akibat nyeri leher pada pekerja di CV Prima Tani Wonosobo. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan melibatkan 40 pekerja. Data diambil dengan menggunakan instrumen penelitian lembar kuesioner Visual Analogue Scale (VAS) serta melakukan observasi postur kerja menggunakan BRIEF Survey dan melakukan pengukuran keterbatasan gerak leher menggunakan alat Goniometer. Analisis statistik menunjukkan ada hubungan antara postur kerja (p-value 0,020), waktu kerja efektif (p-value 0,031), usia (p-value 0,03), jenis kelamin (p-value 0,036), dan aktivitas fisik (p-value 0,001) dengan keterbatasan gerak leher.
Kata kunci : keterbatasan gerak leher; nyeri leher; postur kerja; waktu kerja efektif