DETAIL DOCUMENT
DAMPAK BROKEN HOME TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA SMK N 1 KUDUS TAHUN 2021/2022 (STUDI KASUS)
Total View This Week0
Institusion
Universitas PGRI Semarang
Author
KHOLIL, M ALFIN NUR
Subject
L Education (General) 
Datestamp
2024-01-31 07:20:17 
Abstract :
Anak-anak atau remaja yang menghadapi perceraian orang tuanya biasanya akan mengalami gejala gangguan kesehatan mental jangka pendek, yaitu stres, cemas, dan depresi. Selain itu, banyak dampak negatif lainnya yang akan di terima oleh anak. Sehingga anak akan cenderung menghadapi fase kebingungan didalam dirinya. Diantaranya adanya anak yang merasa sensitive sehingga mudah emosional anak merasa kesepian karena tidak adanya dukungan dari keluarga, kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua sehingga dapat menurunkan keaktifan siswa dalam belajar. Tujuan dalam penelitian ini yaitu nntuk mengetahui dampak keluarga Broken Home terhadap aktivitas belajar siswa di SMK N 1 KUDUS. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini terhadap empat siswa/i SMKN 1 Kudus yang mengalami keluarga Broken Home melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil temuan penelitian dan hasil analisis yang disajikan dalam tabel koding khusus keempat informan, terkait dengan bagaimana dampak broken home terhadap aktivitas belajar siswa SMK N Kudus. Dari keempat informan penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa tergolong rendah. Selain itu hasil temuan dalam penelitian ini juga menghasilkan bahwa aspek mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat adalah yang paling banyak dimiliki oleh peserta didik yang mengalami permasalahan broken home. Aspek terendah yang paling jarang dimunculkan dalam keaktivitasan belajar adalah memberikan gagasan atau ide, mengajukan pemikiran yang berbeda dan bekerja mandiri. Berdasarkan simpulan dari penelitian dampak broken home terhadap aktivitas belajar siswa di SMKN 1 Kudus menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa terbilang cukup rendah. Siswa yang mengalami permasalahan tersebut tidak mampu untuk mengontrol emosinya saat sedang berada di sekolah. Pada dasarnya setiap peserta didik mempunyai kemampuan yang tidak berbeda dalam belajar, tetapi ada hal yang membuat mereka berbeda salah satunya yakni keluarga broken home. Jika ada permasalahan dalam keluarga dan orang tua tidak bersama anak maka anak akan kurang perhatian dan dukungan dalam belajar hal ini akan menjadikan anak cenderung memikirkan masalah keluarganya dan tidak fokus saat proses belajar. Kata Kunci: Broken Home, Aktivitas Belajar 
Institution Info

Universitas PGRI Semarang