Abstract :
Eceng gondok memiliki ciri khusus, habitat, dan fungsi dalam kehidupan.
Eceng Gondok adalah jenis tumbuhan yang hidup dengan cara mengapung di air.
Tanaman dengan nama ilmiah Eichhornia Crassipes ini sangat mudah ditemukan
hidup di rawa-rawa atau sungai di berbagai daerah di Indonesia. Masing-masing
daerah pun memiliki beberapa nama khusus untuk tanaman Eceng Gondok ini,
misalnya di Lampung dinamakan Ringgak, di Dayak dinamakan Ilung-ilung, di
Manado dinamakan Tumpe, dan di Palembang dinamakan Kelipuk. Tanaman
Eceng Gondok dapat tumbuh dengan sangat cepat sehingga tidak membutuhkan
waktu lama bagi Eceng Gondok untuk menyebar dan menutupi seluruh
permukaan sungai atau rawa. Dalam waktu 7 bulan saja, 10 buah tumbuhan Eceng
Gondok dapat berubah menjadi 700.000 tumbuhan. Oleh karena itu, Eceng
Gondok sering dikategorikan sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan
perairan. Tumbuhan Eceng Gondok secara tidak sengaja pertama kali ditemukan
pada tahun 1824 oleh Carl Friedrich Philipp Von Martius, seorang ahli Botani
berkebangsaan Jerman saat dirinya sedang melakukan ekspedisi di Sungai
Amazon, Brazil.
Pemanfaatan dan permintaan filamen 3D Printer saat ini sedang meningkat
secara signifikan. Sementara itu, filamen 3D Printer komersial yang tersedia di
pasaran bahannya mahal, dan masih impor dari luar negeri. Untuk itu, peneliti
mencari bahan lain yang mudah didapat dan melimpah sebagai bahan filamen
yaitu menggunakan campuran plastic jenis PLA dan eceng gondok. Penelitian ini
berfokus pada pengembangan dan pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku
untuk filamen 3D Printer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengembangkan filamen 3D Printer yang terbuat dari campuran plastic jenis
Polylactic Acid (PLA) dan eceng gondok.
Kata kunci: Eceng gondok, polylactic acid, Filamen, 3D Printer