Abstract :
Brucellosis dapat terjadi pada sapi, babi, domba dan kambing namun
penyebarannya pada manusia yang lebih beresiko yaitu dari sapi. Penyebaran
Brucellosis dapat melalui udara (airborne) dan kontak langsung pada sapi yang
terinfeksi. Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu melakukan
biosecurity pada peternakan, melakukan uji RBT terhadap sapi potong untuk
mengetahui adanya Brucellosis pada daging sapi potong tersebut, serta melakukan
vaksinasi pada populasi yang terkena. Berdasarkan latar belakang yang diuraikan
diatas, penelitian ini dilakukan untuk mendeteksi adanya penyakit Brucellosis
melalui uji Rose Bengal Test (RBT) khususnya di Desa Gayam KecamatanGayam
Bojonegoro. Jenis Penelitian ini adalah deskriptif dengan populasi sapi ternak
sebanyak 500 ekor dan sampel yang diambil sebanyak 42 sampel darah sebanyak 3
ml dari total keseluruhan populasi 500 ekor, dengan tingkat konfidensi 95%, teknik
pengambilan sampel ini menggunakan teknik purposive sampling. Analisa data
dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan menghitung jumlah hasil
positif untuk mendeteksi adanya reaktor Brucellosis dengan Rose Bengal Test.
Deteksi adanya antibodi Brucella dengan melihat jumlah seluruh sampel positif.
Dan dari hasil analisis yang telah dilakukan, didapatkan fakta tidak ditemukannya
antibodi Brucella pada sapi yang diperiksa dengan menggunakan pengujian Rose
Bengal Test (RBT).
Kata kunci: Brucellosis, Rose Bengal Test (RBT), Complement Fixation Test(CFT), Sapi potong