Abstract :
Hiperurisemia ialah kondisi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat. Faktor risiko
yang juga berpengaruh yaitu aktivitas fisik yang dilakukan, Aktivitas fisik seperti berolahraga,
gerakan fisik lainya dapat membantu ekskresi asam urat. Selanjutnya, faktor risiko
hiperurisemia adalah jenis kelamin, pada pria sebelum usia 30 tahun dikatakan lebih banyak
mengalami hiperurisemia karena pria biasanya memiliki serum asam urat lebih tinggi
dibandingkan dengan perempuan, tetapi pada usia 60 tahun. Faktor- faktor risiko yang telah
dijelaskan dapat menyebabkan hiperurisemia. Oleh karena itu pada penelitian ini, peneliti ingin
melakukan penelitian terkait pengaruh pemeberian edukasi tentang status gizi, usia, jenis
kelamin, aktivitas fisik terhadap penurunan kejadian hiperurisemia. Jenis penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan metode eksperimen semu
(Quasy Experiment) door to door. Populasi dan sampel yang diambil adalah pasien yang telah
tercatat menderita hiperurisemia di pustu desa saseel, kec.sapeken kab. sumenep yang telah
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 35 responden. Metode analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah chi-square yang kemudian akan dilanjutkan dengan
koefisien kontingensi. Dan dari hasil analisis, ditemukan fakta tidak adanya pengaruh antara
edukasi tentang status gizi dan aktivitas fisik terhadap penurunan kejadian hiperurisemia pada
Desa Saseel Kec. Sapeken.
Kata kunci : Edukasi, Status Gizi, Aktivitas Fisik, Penurunan Hiperurisemia