Abstract :
Abstrak
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan
(archipelagec state) terbesar di dunia yang posisinya sangat strategis. Luas laut
nya 2/3 dari wilayah daratannya, maka Indonesia merupakan salah satu negara
yang memiliki wilayah laut yang paling terbesar di dunia dan memiliki sumber
daya laut yang berlimpah. Sumber daya laut yang melimpah belum dapat terjaga
dan dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia
sehingga berdampak meningkatnya tindak pelanggaran atau pun kejahatan melalui
laut di wilayah perairan Indonesia yang dilakukan oleh kapal-kapal berbendera
asing berupa illegal fishing, illegal mining, human trafikking, penyeludupan baik
narkotika maupun senjata api. Sesuai Undang-Undang Nomor 34 tahun 2004
tentang Tentara Nasional Indonesia pasal 9 disebutkan Tentara Nasional
Indonesia Angkatan Laut (selanjutnya ditulis TN! AL) sebagai komponen
pertahanan negara salah satu tugasnya menegakkan hukum dan menjaga
keamanan wilayah laut yurisdiksi Indonesia sesuai dengan ketentuan hukum
nasional dan hukum internaional yang telah diratifikasi. Sehingga dengan
demikian seharusnya setiap kejadian tindak pidana di laut, TNI AL memiliki
kewenangan untuk melaksanakan penyidikan sampai proses lanjut ke pengadilan
termasuk juga permasalahan tindak pidana penyeludupan senjata api. Tetapi hal
ini tidak dapat dilaksanakan dikarenakan perbedaan persepsi tentang Undang-
Undang Darurat Nomr 12 Tahun 1951 tentang senjata api (Lembaran Negara RI
Nomor 78 Tahun 1951) pasal 6 ayat (1) yang tidak secara spesifik menyebutkan
. siapa penyidik, sehingga persepsinya bahwa penyidik hanya Kepolisian sesuai
KUHAP pasal 6 ayat (1) huruf b, padahal ada penyidik tindak pidana tertentu
lainnya sesuai Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 tahun 1983 tentang
pelaksanaan KUHAP.
Metode Penelitian yang digunakan adalah pendekatan undang-undang
(statute approach), yaitu dengan menelaah undang-undang yang terkait dan
regulasi yang bersangkut paut dengan isu-isu hukum yang sedang dibahas.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TN! AL memiliki kewenangan
untuk: melakukan penyidikan terhadap tindak pi dana penyeludupan senjata api di
perairan Indonesia sehingga perlu adanya perubahan regulasi tentang Undang- .
Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang senjata api oleh Pemerintah guna
mengoptimalkan kewenangan TN! AL dalam hal penyidikan di laut guna menjaga
kedaulatan dan menegakan hukum di laut yurisdiksi nasional Indonesia.
Kata kunci: kewenangan TNI AL, penyidikan , perairan Indonesia
=========================================================
Abstract
Indonesia is archipelagec state in the world's largest island country that
has a strategic location astride major sea lanes. The fact that Indonesia's seas
constitute 2/3 of its land surface, makes Indonesia one of the country in the world
with biggest sea areas and abundant sea resources. These abundant sea resources
has not been used optimally, especially for Indonesian people's welfare, and
therefore it impacted on increasing the criminal acts by foreign flagged ships such
as illegal fishing, illegal mining, human trafficking, and smuggling operations for
both narcotics or firearms. According to act 34/2004 about the Indonesian
National Armed Forces (abbreviated as TNI), Article 9, one of the task of
Indonesian Navy as part ofTNI and as the country's core defense component is to
enforce the law and maintain the security in Indonesia's maritime jurisdiction in
accordance with the provisions of the national laws and ratified international
laws. Therefore, for any criminal acts in the sea, Indonesian Navy should have the
authority to carry out investigations until proceeding to the court. This, including
the issue of criminal acts of firearms smuggling. But this cannot be done due to
different perceptions of Emergency law 12/1951 about fire arms (State Gazette of
The Republic ofIndonesia Year 1951 Number 78) article 6 verse (1) which does
not specifically state who the investigator is, and that turns the perception that the
investigator is only the Police according KUHAP Article 6 verse (1) letter b, for
whereas there are other criminal acts investigators according to RI Government
Rules 27/1983 about KUHAP implementation.
The research method that is used are statute approach, by reviewing the
relevant laws and regulation related to the legal issues being discussed.
The results of this research indicate that Indonesian Navy has the authority
to carry out an investigation of the criminal acts of firearms trafficking and
smuggling operations in Indonesia's maritime areas. So there is a need for
regulatory changes regarding Emergency Law 12/1951 about firearms by the
government to optimize the authority of Indonesian Navy in terms of investigation
at the sea in order to maintain sovereignty and law enforcement in the s