DETAIL DOCUMENT
Konseling behavioristik dengan teknikkontrakperilaku untuk mengatasi kebiasaan membolos pada siswa sma tahunpelajaran 2018/2019
Total View This Week18
Institusion
Universitas Muria Kudus
Author
INDRIYANI, TRI DIYAH
Subject
Konsultas dan konseling pendidikan 
Datestamp
2019-10-01 06:31:45 
Abstract :
Membolos merupakan salah satu bentuk perbuatan yang melanggar tata tertib sekolah. Membolos merupakan hal yang disengaja oleh siswa, hal ini menyebabkan pelajar mengalami masalah dalam jenjang pendidikannya. Penyimpangan tersebut dapat mengakibatkan siswa tidak naik kelas atau tertinggal pelajaran yang diberikan oleh guru. Untuk meningkatkan perilaku positif terhadap siswa perlu adanya penanganan konseling behavioristik dengan teknik kontrak perilaku. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus dengan metode kualitatatif. Subyek yang diteliti sebanyak 2 (dua) siswa SMA N 2 Rembang yaitu EYM dan SABSkelas X MIPA 5 yang memiliki permasalahan kebiasaan membolos. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara, metode observasi dan metode dokumentasi. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif, agar dapat diperoleh pemahaman tentang perilaku kebiasaan membolos yang dilakukan subyek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua konseli sebelum dilakukan konseling memiliki perilaku kebiasaan membolos sekolah. Faktor internal yang berasal dari dalam diri EYM yaitu konseli merasa tidak nyaman dengan suasana di kelas, serta jenuh dengan materi pembelajaran di kelas, kurangnya motivasi dalam diri EYM. Faktor eksternal berasal dari berasal dari lingkungan pergaulan dengan teman yang kadang mengajaknya membolos sekolah, serta kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak yang membuat EYM bertingkah sesuai keinginannya sendiri. Selain itu konseli juga mempunyai kebiasaan bermain game online. Dilihat dari perilaku konseli, faktor internal yang berasal dari dalam diri SABS dikarenakan kurang menyukai dan merasa terpaksa bersekolah di SMA tersebut. Faktor eksternal disebabkan karena tidak mendapat dukungan orang tuanya bersekolah di SMA yang menjadi pilihan SABS, sehingga SABS memberontak dengan cara membolos sekolah. Konseli juga kurang bersosiaisasi dengan temannya sehingga konseli merasa tidak memiliki teman akrab atau teman yang berasal dari satu SMP. Selain itu, konseli juga memiliki kebiasaan bermain game online yang menyebabkan konseli menjadi malas untuk belajar dan berangkat ke sekolah. Setelah diberikan diberikan bantuan konseling dengan pendekatan behavioristik dengan teknik kontrak perilaku, kedua konseli menunjukkan mengalami perubahan sikap yang awalnya sering membolos sekolah dan merasa jenuh ketika berada di dalam kelas, sedikit demi sedikit mulai ada semangat belajar dan tidak membolos sekolah. Walaupun perubahan belum dikatakan sempurna, namun secara garis besar konseli berniat sungguh-sungguh memperbaiki sikap dari sebelumnya. Pola pikir konseli sudah jauh lebih luas dibandingkan sebelum peneliti melakukan konseling. 
Institution Info

Universitas Muria Kudus