Institusion
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur
Author
Deki, Yansah
Subject
HF5549 Personnel Management. Employment management
Datestamp
2011-10-25 01:50:18
Abstract :
Seiring dengan kemajuan jaman dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, setiap perusahaan harus mempunyai strategi yang efektif dalam menyiasati perkembangan dan kondisi pasar yang ada. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk menerapkan suatu sistem produksi dan manajemen yang tepat serta efisien agar tetap dapat bersaing dan dapat memenuhi target yang diinginkan. PR HBS JAYA merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi produk rokok .Sistem pengupahan yang dilakukan oleh PR HBS JAYA adalah sistem upah harian. Perusahaan ini di dalam sistem pengupahan hanya berdasarkan waktu kerja karyawan selama 8 jam/hari dan tidak berdasarkan prestasi kerja. Akibat dari minimnya upah yang diterima mengakibatkan turunnya motivasi kerja karyawan, sehingga hal ini akan menyebabkan produktifitas kerja menurun. Permasalahan yang ada disini adalah Berapa besar insentif yang diberikan agar dapat meningkatkan kinerja karyawan pada bagian produksi rokok sehingga dapat meningkatkan motivasi kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan output produksi. Dalam upaya peningkatan motivasi kerja agar dapat meningkatkan output produksi dilakukan dengan cara pemberian upah insentif. Peneliti disini menggunakan metode insentif yaitu metode Efisiensi Emerson dan Metode Henry Gantt. Dari penelitian dan perhitungan yang telah dilakukan, diperoleh bahwa besar insentif berdasarkan metode Efisiensi Emerson diperoleh sebesar Rp. 2.700,-/hari sehingga total upah insentif diperoleh sebesar Rp. 32.700,-/hari. Sedangkan besar insentif berdasarkan metode Henry Gantt diperoleh sebesar Rp. 5.992,-/hari sehingga total upah insentif diperoleh sebesar Rp. 35.992,-/hari. maka sebaiknya metode insentif yang digunakan adalah Metode bonus Gantt karena metode ini sederhana,adil dan mudah dimengerti oleh pekerja serta menguntungkan bagi perusahaan karena tidak semua pekerja mendapat insentif, hanya pekerja yang mampu menghasilkan jumlah produksi di atas standard yang menerima upah insentif. Sedangkan metode Efisiensi Emerson memerlukan prosedur yang rumit karena melihat terlebih dahulu tabel Efisiensi Emerson dan sulit bagi pekerja untuk menghitung sendiri upah yang berhak diterima.