Abstract :
Di Indonesia saat ini sedang mengalami perekonomian yang cukup sulit
yang berdampak kepada kekurangan gizi yang semakin meningkat. Salah satu
upaya tersebut antara lain menggali potensi ternak yang mempunyai kemampuan
reproduksi yang tinggi.Ternak kelinci mempunyai beberapa keunggulan sebagai
penghasil daging, diantaranya kemampuan memanfaatkan hijauan dan produk
limbah, serta dagingnya mengandung protein yang tinggi dengan kolesterol yang
rendah. Selain itu kotoran kelinci dapat digunakan sebagai pupuk kandang untuk
menghasilkan produksi tanaman (Spreaadburi dan Yono C. Rahardjo: 1978).
Salah satu kendala yaitu penyakit. Diagnosa pada hewan kelinci biasanya
dilakukan oleh seorang Dokter hewan berdasarkan gejala yang diderita.
Kesimpulan penyakit ini bisa didapat dari gejala yang timbul. Seperti itulah cara
kerja dari seorang pakar/ahli. Meskipun seorang pakar adalah orang yang ahli
dibidangnya, namun dalam kenyataannya seorang pakar mempunyai keterbatasan
daya ingat dan stamina kerja yang salah satu faktornya mungkin disebabkan
karena usia dari seorang pakar. Sehingga seorang pakar dalam hal ini seorang
Dokter hewan pada suatu ketika bisa saja melakukan kesalahan yang mungkin
salah satunya melakukan kesalahan pada hasil diagnosa yang bisa berlanjut pada
kesalahan solusi yang diambil.
Untuk membantu kerja Dokter hewan dalam hal mendiagnosa penyakit
berdasarkan penalaran-penalaran yang dimulai dari fakta terlebih dahulu dan
menentukan solusinya disebut dengan forward chaining. Perancangan sistem
pakar akan dibuat dengan menggunakan pendekatan dengan forward chaining.