Abstract :
Penelitian ini dilatar belakangi oleh munculnya pemberitaan Gayus
Tambunan sedang menonton turnamen tenis Commonwealth Bank Tournament of
Champions 2010 di Nusa Dua, Bali. Pria berjaket itu mengenakan kaca mata dan
berambut tebal yang diduga rambut palsu alias wig. Dia terjepret oleh kamera dua
fotografer sebuah harian ibu kota saat peliputan pertandingan antara petenis
Daniela Hantuchova dan Yanina Wickmayer.
Sebuah realitas yang disajikan oleh media massa bukanlah realitas yang
sebenarnya namun merupakan konstruksi bentukan. Hal ini sesuai dengan
pandangan konstruksionis yang menyatakan media bukanlah saluran yang bebas
namun juga sebagai subjek yang mengkonstruksi realitas. Secara tidak langsung
hal ini menyatakan bahwa berita yang disajikan oleh media merupakan hasil dari
konstruksi realitas. Sehingga landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini
adalah media dan konstruksi realitas, ideology media, model hierarchi of
influence, berita sebagai hasil konstruksi realitas, analisis framing, proses framing,
perangkat framing Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki, serta kerangka berpikir.
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis framing.
Analisis framing sangat tepat digunakan untuk menangkap kecenderungan sikap
dan prespektif suatu media dalam cara pemberitaannya. Salah satu konsep framing
adalah dari Zhondang Pan dan Gerald M Kosicki. Perangkat analisis Pan dan
Kosicki ada empat unsur, yaitu sintaksis, skrip, tematik dan retoris. Corpus dalam
penelitian ini adalah berita ? berita Kasus Gayus Tambunan di surat kabar Harian
Jawa Pos dan surat kabar Harian Kompas.
Hasil analisis peneliti dapat diketahui bahwa Surat Kabar Jawa Pos
membentuk konstruksi berita terkesan jelas dan dalam memposisikan
kapasitasnya sebagai lembaga kontrol sosial dengan menampilkan berita
kepergian Gayus Tambunan ke Bali. Jawa Pos mengungkap kasus secara tajam
terutama terhadap penyebab hingga kasus tersebut bisa muncul ke masyarakat.
Jawa Pos juga dengan berani menuliskan hubungan Gayus dengan yang
membiayai Gayus tersebut. Sedangkan surat kabar harian Kompas dalam
mengkonstruksikan beritanya lebih ditekankan pada rasa khawatir. Kompas
berusaha menunjukkan bukti-bukti nyata dari para wartawan dan tamu asing di
hotel Westin, Bali. Jawa Pos dan Kompas dalam menyajikan framenya mengenai
Kasus Gayus menampilkan unsur skrip secara jelas. Jawa Pos menggunakan unsur
skrip dengan menampilkan isu ? isu apa yang muncul yang mendukung frame
beritanya, menunjukkan siapa saja yang terlibat, siapa yang menjadi pelaku dan
siapa yang menjadi objek. Begitu pula dengan tempat dan waktu terjadinya atau
munculnya isu ? isu perseteruan tersebut. Serta Jawa Pos juga menjelaskan
mengapa dan bagaimana perseteruan tersebut muncul dan perlu untuk diketahui
oleh khalayaknya. Kompas dalam mengkonstruksi beritanya juga memanfaatkan
unsur skrip didalamnya, unsur what, who, where, when, why dan how dijabarkan dengan baik dan bagus sehingga berita yang ditampilkan pun menarik. Unsur
retoris yang coba dibangun Jawa Pos bersifat lebih provokatif dan berani, hal ini
dapat dilihat dari foto ? foto yang ditampilkan dan caption yang melengkapi foto.
Untuk mendukung framenya, elemen leksikon maupun grafis digunakan Jawa Pos
sehingga berita yang disajikan menjadi lebih menarik dalam mempersuasi
pembacanya. Kompas menggunakan unsur retoris dengan menampilkan frame
yang apa adanya dan sesuai kenyataan. Hal ini dibuktikan dengan pemberitaan
nya mengenai masalah ? masalah krusial yang memerlukan perhatian pemerintah,
masalah ini ditampilkan beserta data ? data nominal. Sehingga secara keseluruhan
frame Jawa Pos dalam memberitakan Gayus pergi ke Bali dari sudut pandang
penegak hukum dan pakar hukum. Jawa Pos menuliskan mulai dari latar belakang
kasus tersebut muncul dan reaksi dari pakar hokum. Harian Kompas membingkai
berita Gayus pergi ke Bali dari sudut pandang wartawan dan para tamu-tamu di
Hotel Westin. Bagaimana wartawan mereka berhasil membidik foto Gayus dan
kesaksian tamu-tamu hotel Westin, Bali.