Abstract :
Pemberitaan tentang kekerasan dalam agama di dunia pertelivisian terus
didengungkan seiring dengan berlalunya waktu. Tak henti-hentinya konflik antar
umat beragama yang mendera negeri ini disiarkan oleh berbagai media termasuk
media televisi. Tampilan berita yang berkaitan dengan konflik antar umat beragama
tersebut ditampilkan secara berbeda oleh masing masing media televisi berdasarkan
ideologinya sendiri-sendiri. Salah satunya adalah berita peristiwa bentrokan antara
warga dengan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik. Oleh karena itu, dalam penelitian ini
ingin dilihat bagaimanakah perbedaan media televisi membingkai pemberitaan
peristiwa bentrokan antara warga dengan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik. Penelitian
ini juga bertujuan untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan TV One dan
Metro TV dalam mengkonstruksi realitas tentang peristiwa bentrokan antara warga
dengan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik.
Landasan teori yang digunakan sebagai rujukan analisis antara lain, Jurnalisme
Televisi Sebagai Media Massa, Peran Media Massa dalam Mengkonstruksi Realitas,
Berita Merupakan Hasil dari Konstruksi Realitas, Moda Komunikasi, serta landasan
teori model framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis framing dengan
menggunakan teori yang dikembangkan oleh Zhongdang Pan dan Gerald M.
Kosicki. Unit analisisnya adalah item berita tentang peristiwa bentrokan antara
warga dengan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik yang berupa naskah berita pada
media televisi TV One dan Metro TV tanggal 6 Februari ? 4 Maret 2011. Populasi
berita di TV One ada 8 berita, sementara Metro TV sebanyak 10 berita dan yang
dijadikan korpus ada 3 berita dari TV One dan 4 berita dari Metro TV.
Hasil dari penelitian ini berdasarkan analisis data yang didapat dari naskah
berita yang menjadi korpus di kedua media televisi tersebut yaitu TV One
membingkai peristiwa bentrokan antara warga dengan jemaah Ahmadiyah di
Cikeusik cenderung lebih pro (apresiasi atau menyanjung) peran polisi dalam
peristiwa bentrokan antara warga dengan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik
berdasarkan realitas bagusnya peran aktif polisi untuk menangani dan mengusut
peristiwa bentrokan Cikeusik. Sedangkan Metro TV cenderung lebih kontra dan
terkesan menjatuhkan peran polisi dalam peristiwa bentrokan antara warga dengan
jemaah Ahmadiyah di Cikeusik berdasarkan realitas buruknya peranan polisi dalam
mengatasi peristiwa bentrokan ini.
Kata kunci : Framing, peristiwa bentrokan antara warga dengan jemaah Ahmadiyah
di Cikeusik, TV One, Metro TV, Pan dan Kosicki.