Abstract :
Krisis global yang melanda penduduk Indonesia menjadi sebuah cekikan
keras bagi rakyat dan pemerintahan pada era 70an dan 80an. Tidak hanya dari
berbagai sektor yang kena imbas dampak negatifnya, tetapi juga mempengaruhi
pola kehidupan masyarakat di Indonesia. Dalam perilaku ekonomi, masyarakat
harus lebih ekstra selektif untuk menentukan mana kebutuhan yang benar-benar
diperlukan dan mana kebutuhan yang sifatnya dapat ditunda agar masyarakat
tidak mengalami pemborosan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Pemaknaan kehidupan keluarga dalam lagu ?Generasi Frustasi? akan
diteliti dengan menggunakan pendekatan semiotik yaitu teori semiotik menurut
Ferdinand de Saussure. Berdasarkan teori saussure, maka pemaknaan kehidupan
kelurga dalam lagu ?Generasi Frustasi? tersebut akan diteliti berdasarkan teori
tanda saussure yang mempunyai tiga bagian yaitu : Signifier, Signified, dan
Signification.
Berdasarkan pengamatan penulis terhadap pamaknaan lagu ?Generasi
Frustasi? memberitahukan sebuah nilai kepada masyarakat bahwa telah banyak
dari mereka melupakan pentingnya keluarga yang akan membentuk pribadipribadi
dalam masyarakat sosial sehingga menciptakan adanya keluarga yang
broken home.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode semiotik yang
bersifat Deskriptif kualitatif dengan menggunakan pemaknaan lirik lagu
?Generasi Frustasi? sebagai korpus penelitian. Unit analisis ini adalah tanda-tanda
berupa tulisan, yaitu terdiri atas kata-kata yang membentuk kalimat yang ada pada
lirik lagu ?Generasi Frustasi?.
Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian pada lagu ?Generasi
Frustasi? dapat diambil kesimpulan bahwa keluarga memiliki peranan penting
dalan membentuk suatu generasi. Keluarga yang broken home akan membuat para
anggota dalam keluarga tersebut menjadi tidak nyaman. Keadaan orang tua yang
lebih mementingkan keegoisannya sendiri, lebih memilih mencari kesenangan
sendiri-sendiri tanpa menyadari bahwa masih ada anak-anak yang masih tetap
membutuhkan perhatian dalam perkembangannya.