Abstract :
Perkembang teknologi yang terjadi saat ini tidak bisa lepas dari
perkembangan ekonomi. Saling ketergantungan ini disebabkan oleh persaingan
yang semakin ketat antar produsen dalam merebut pangsa pasar di Indonesia.
Dengan kata lain hanya produk yang berkualitas lah yang mungkin mendapatkan
pangsa pasarnya.
Permasalahan yang dihadapi perusahaan adalah masih tingginya defect
produk yang terjadi pada Velg mobil jenis Davino. Jenis defect tersebut adalah Cat
tidak rata,Cetakan meluber,Ukuran tidak presisi,Cat menggumpal,Penyok,Adanya
guretan. Six sigma merupakan salah satu pendekatan teknik di bidang industri
manufaktur yang digunakan sebagai metode pemecahan masalah yang berkaitan
dengan upaya perbaikan secara terus menerus. Six sigma adalah cara mengukur
proses, tujuan mendekati sempurna, disajikan dengan 3,4 DPMO (defect per
million opportunities), sebuah pendekatan untuk mengubah organisasi.
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah Mengukur tingkat
DPMO dan level sigma PT.UNION METAL SURABAYA saat ini, serta
memberikan usulan perbaikan dengan tujuan mengurangi jumlah defect paling
dominan (terbesar) yang ada pada proses produksi dengan metode six sigma.
Setelah dilakukan pengolahan data selama 6 bulan didapat nilai DPMO
sebesar 12745 yang dapat diartikan bahwa dari satu juta kesempatan akan terdapat
12745 kemungkinan produk yang dihasilkan akan mengalami kecacatan.
Perusahaan berada pada tingkat 3,73 sigma dengan CTQ (Critical To Quality)
yang paling banyak menimbulkan cacat yaitu Adanya guretan sebesar 23,19 %
dari total cacat 3043. Dari hasil analisis maka dapat disimpulkan bahwa penyebab
utama kecacatan adalah faktor manusia dan berdasarkan table FMEA maka
kebijakan utama yang harus dijalankan oleh perusahaan yaitu memberikan arahan
atau teguran serta pengawasan proses produksi secara rutin dan memperketat
standarisasi kemampuan pekerja di segala bidang.
Kata kunci: CTQ, DPMO, six sigma, DMAIC, FMEA