Abstract :
Bursa efek dan pasar modal mempunyai peranan yang penting baik bagi
badan usaha, investor, maupun pemerintah. Bagi badan usaha khususnya
perusahaan manufaktur yang go public akan memperoleh dana segar yang
dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur modal perusahaan dan meningkatkan
nilai perusahaan. Stock split merupakan cara yang dilakukan oleh emiten untuk
mempertahankan sahamnya agar tetap berada dalam rentang perdagangan yang
optimal. Dengan melakukan pemecahan saham, maka harga saham akan menjadi
lebih rendah dan hal ini akan memperbesar daya beli investor, dengan begitu
tingkat likuiditasnya akan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
dan membuktikan pengaruh dari harga saham dan volume perdagangan saham
terhadap likuiditas saham.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 perusahaan
Manufaktur yang go publik di Bursa Efek Indonesia dan melakukan pemecahan
Saham (Storck split) pada tahun 2007 dan 2008, sedangkan jenis data yang
digunakan adalah data sekunder yaitu berupa data harga saham dan volume
perdagangan saham dan sumber data berasal dari PT. Bursa Efek Indonesia. Data
yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Uji Regresi Linier Berganda.
Dari hasil analisis dengan menggunakan Uji Kesesuaian Model atau Uji F
dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang menyatakan diduga harga saham dan
volume perdagangan saham berpengaruh terhadap likuiditas saham, teruji
kebenarannya. Selanjutnya dari hasil Uji Parsial atau Uji t, dapat disimpulkan
bahwa hipotesis yang menyatakan diduga harga saham berpengaruh terhadap
likuiditas saham, tidak teruji kebenarannya, Sedangkan untuk hipotesis yang
menyatakan diduga volume perdagangan saham berpengaruh terhadap likuiditas
saham, teruji kebenarannya.
Keyword : Harga saham, Volume perdagangan saham, dan Likuiditas
saham