Abstract :
Mendengarkan adalah skill yang terpenting diantara empat skill
bahasa.Lebih dari 45% waktu berkomunikasi dihabisakan untuk
mendengarkan.Mendengarkan juga merupakan salah satu materi mata pelajaran
Bahasa Inggris di kelas 8 SMP N 3 Jepara. Disana, guru Bahasa Inggris jarang
mengadakan kegiatan mendengarkan. Guru cenderung hanya menggunakan buku
paket di dalam kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut berdampak pada nilai
siswa dalam mendengarkan.Kebanyakan nilai siswa dalam mendengarkan di
bawah KKM. (68) Kemampuan mendengarkan mereka masih belum bagus.
Penulis menggunakan metode mengajar bernama dictogloss untuk memecahkan
persoalan tersebut.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetes apakah ada perbedaan
signifikan antara kemampuan mendengarkan dari siswa kelas 8 SMP N 3 Jepara
sebelum dan setelah diajar menggunakan dictogloss pada tahun ajaran 2013/ 2014.
Desain dari penelitian ini adalah penelitian pre-eksperimental.Penulis
menggunakan group tunggal dengan pre test dan post test.Populasi diambil
dari siswa kelas 8 SMP N 3 Jepara pada tahun ajaran 2013/ 2014. Penulis
menggunakan teknik cluster random sampling untuk mengambil sampel. Dan
penulis mendapatkan kelas 8C sebagai sampel dengan jumlah siswa 38. Instrumen
yang digunakan adalah berupa soal test pilihan ganda.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa post - testtergolong
dengan nilai rata-rata 77.87 dan standar deviasi 8.2. Lebih tinggi daripada pre
test dengan nilai rata-rata 65.5 dan standar deviasi 5.71 yang dapat
signifikan antara kemampuan mendengarkan siswa kelas 8 SMP N 3 sebelum dan
sesudah diajar menggunakan dictogloss pada tahun ajaran 2013/ 2014.Dari
perhitungan t test, t-obtained diketahui 8.11 dan t-critical ± 2.021 dengan level
signifikan .05 dan degree of freedom 37.T-obtained lebih besar dari t-
critical.Jadi, penulis menolak H (null hypothesis) dan menerima H (alternative
0 1
hypothesis) karena t-obtained jatuh di wilayah kritis.
Berdasarkan hasil diatas, penulis menyarankan bahwa dictogloss ternyata
efektif dalam kegiatan mendengarkan.Juga bisa menjadi solusi bagi guru sebagai
metode alternatif untuk mengajar listening disamping menggunakan peralatan
umum seperti laboratorium bahasa, tape, headphone, dsb.