Abstract :
Pembangunan agroindustri khususnya yang berlokasi dipedesaan berarti
menempatkan kebijaksanaan pertanian pada posisi yang sebenarnya dengan
berlandaskan pada tersedianya sumber daya yang ada. Manfaat ekonomi dari
kegiatan industri dapat meningkatkan kesempatan kerja di pedesaan,
meningkatkan nilai tambah, meningkatkan pendapatan petani, meningkatkan mutu
dari hasil pertanian yang ada pada gilirannya nanti dapat memenuhi syarat untuk
memasuki pasar luar negeri atau dapat menghemat devisa negara bahkan yang
lebih penting sebenarnya adalah keterkaitan antara sektor pertanian, sektor
industri perdagangan dan sektor lainnya dalam perekonomian. Pada tahap ? tahap
pembangunan mendatang sektor pertanian sebagai sektor pendukung diharapkan
akan memainkan peranan yang penting dalam pertumbuhan perekonomian
nasional. Akhir ? akhir ini perhatian terhadap tanaman kedelai cukup meningkat,
baik dari pemerintah maupun masyarakat, sejak minyak bumi mulai pudar
kedudukannya sebagai primadona bahan ekspor, orang mulai menyadari bahwa
tanaman kedelai dapat diandalkan sebagai salah satu sumber untuk meningkatkan
pendapatan pengolahan dan petani kedelai. Salah satu produk kedelai yang
bernilai tinggi adalah tempe. Tempe banyak digemari konsumen, baik sebagai
pelengkap makanan sehari ? hari atau sebagai makanan ringan. Memasuki area
industrialisasi yang didukung dengan sistem pertanian yang tangguh, maka sektor
pertanian harus menjadi soko guru bagi perekonomian nasional. Dengan demikian
pengembangan agroindustri terhadap usaha tani kedelai merupakan upaya untuk
menyeimbangkan perekonomian pusat yang berciri industri dengan daerah yang
berciri pertanian rakyat.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengidentifikasi karakteristik
pengusaha/ Agroindustri tempe di UMKM ?Medokan Jaya?. (2) Untuk
menganalisis nilai tambah pada Agroindustri tempe di UMKM ?Medokan Jaya?.
(3) Untuk menganalisis kelayakan usaha pada Agroindustri tempe di UMKM
?Medokan Jaya?.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah: (1) Analisa
diskriptif, digunakan untuk menjawab bagaimana karakteristik pengusaha
agroindustri tempe. Analisis diskriptif ini juga untuk melihat ketersediaan
modal, bahan baku (kedelai), harga dan pemasaran serta peluang pasar. (2)
Untuk mengetahui hasil dan tujuan kedua yaitu menggunakan analisis
Incremental R/C Rasio dan nilai tambah untuk mengetahui bagaimana
keuntungan dalam menghasilkan agroindustri tempe, analisis ini adalah
penambahan antara hasil yang diperoleh ( keuntungan) dari bahan baku kedelai
menjadi tempe dengan biaya yang dilakukan. Sedangkan analisa kuantitatif yang
digunakan meliputi : (a) Analisis Nilai Tambah, (b) Analisis Keuntungan
Pengolah, (c) Analisis Penyerapan Tenaga Kerja, (d) Analisis Imbalan Kerja. (e)
Analisis Rasio Keuntungan Pengolah, (f) Analisis Kelayakan Pendapatan.
Hasil dari penelitian yang saya lakukan untuk menjawab tujuan ke 1
(satu), ke 2 (Dua) dan ke 3 (Tiga) yaitu : (1) karakteristik Agroindustri tempe
ditinjau dari proses produksi pada umumnya telah menggunakan alat pemecah
kulit kedelai dengan cara manual bukan memakai mesin. Dari sesi permodalan
Agroindustri tempe tersebut telah memiliki modal sendiri, walaupun jika diberi
kesempatan pinjam akan menambah modal usaha. Dari sistem pemasaran tempe,
masih bervariasi karena terdapat bentuk dan kemasan yang berbeda. (2)
Pengolahan kacang kedelai menjadi tempe yang dilakukan perusahaan tempe di
Kelurahan Medokan Ayu selama 7 kali proses produksi memberikan nilai
tambah sebesar Rp 3.493.000,- dengan rasio nilai tambah sebesar 41,5 %.
Dengan nilai tambah yang diperoleh, maka pihak pengolah mendapatkan
keuntungan cukup besar sedangkan tenaga kerja memperoleh upah yang layak.
(3) Dilihat dari analisis studi kelayakan diperoleh nilai R/C sebesar 1,3 dengan
kriteria ini, Agroindustri tempe di Kelurahan Medokan Ayu, Surabaya
dinyatakan layak untuk dapat dikembangkan.