Abstract :
tempe, permintaan tempe semakin meningkat mengakibatkan semakin banyak
impor kedelai. Usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut yaitu
dengan mengganti atau mencampur bahan baku (kedelai) dengan bahan yang
lain. Salah satu bahan pengganti kedelai adalah biji lamtoro gung. Diversifikasi
produk tempe dapat dilakukan dengan cara menambahkan lamtoro gung dan
angkak dalam tempe kedelai.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proporsi biji kedelai :
lamtoro gung dan penambahan angkak terhadap kualitas tempe. Penelitian
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor
dan 2 kali ulangan, Faktor I proporsi kedelai : lamtoro gung 70%:30%, 50%:50%,
30%:70%. Faktor II penambahan angkak 1%, 2%, dan 3%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah pada
perlakuan proporsi kedelai : lamtoro gung (70:30) dan penambahan angkak 1%
yang menghasilkan tempe dengan kriteria penambahan angkak 1% yang
memiliki kadar air 62,42%, kadar abu 3,30%, kadar protein 14,99%, kadar lemak
3,99%, kadar fenol 3.178,41 ppm, aktivitas antioksidan 59,47 %, tekstur
(kekerasan) 0,241 mm/gr det dan tingkat kesukaan warna (agak suka) 72, rasa
(agak suka) 75, aroma (agak suka) 73, kekompakan (agak suka) 71. Hasil
analisis finansial diperoleh nilai Break Event Point (BEP) dicapai 26,09% atau
sebesar Rp. 146.533.937,09 dengan kapasitas titik impas 40.703,87 kg/tahun,
Payback Period (PP) dicapai selama 3 tahun 3 bulan, Benefit Cost Ratio 1.0042 ,
NPV sebesar Rp. 46.914.888,- dan IRR mencapai 23,645%,