Abstract :
Mie yang umumnya banyak beredar di pasaran adalah mie dengan berbahan
dasar tepung terigu, dimana gandum sebagai bahan baku tepung terigu masih
impor. Sebagai usaha untuk mengurangi impor gandum, bahan baku mie dapat
digantikan dengan bahan baku lokal yaitu tepung gembili. Permasalahan dalam
pembuatan mie kering adalah tidak dapat membentuk tekstur seperti gluten
sehingga mie yang dihasilkan dari tepung gembili rapuh atau kurang elastis. Untuk
menghasilkan mie yang elastis maka ditambahkan telur yang dapat meningkatkan
elastisitas dan daya rekat mie sehingga akan memudahkan pencetakan dan mie
yang dihasilkan tidak mudah patah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proporsi tepung terigu :
tepung gembili dan penambahan telur terhadap kualitas mie kering. Penelitian
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor dan 3
kali ulangan, Faktor I proporsi tepung terigu : tepung gembili 80:20 (b/b), 70:30 (b/b),
60:40 (b/b). Faktor II penambahan telur 15 % (v/b), 20 % (v/b), dan 25% (v/b).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah pada
perlakuan proporsi tepung terigu : tepung gembili 70:30 (b/b) dan penambahan telur
20% (v/b) yang menghasilkan mie kering dengan kriteria kadar air 8,7966%, kadar
protein 10,8588%, kadar pati 58,8260%, elastisitas 25,0062%, daya rehidrasi air
52,7117%, aktivitas antioksidan 2,8803%, total ranking kesukaan tekstur 86 ; warna
82 ; rasa 71.
Hasil analisis finansial diperoleh nilai Break Event Point (BEP) 23,16%, atau
sebesar Rp. 135.826.990,09 dengan kapasitas 28.899,36 kg/tahun, Pay Back
Periode (PP) perusahaan 3 tahun 3 bulan, Benefit Cost Ratio 1,0060 ; NPV
Rp.7.054.097,- dan IRR 23,158%.