Abstract :
Ulat grayak (Spodoptera spp.) merupakan salah satu hama penting pada
tanaman sawi dan mempunyai kisaran inang yang luas, meliputi : tembakau, sawi,
kapas, kacang kedelai, kacang tanah, kubis, kentang, dan lain-lain. Munculnya hama
ini pada pertanaman sawi merupakan ancaman yang serius bagi petani. Pengendalian
terhadap Spodoptera spp. pada tingkat petani umumnya masih menggunakan bahan
kimia yang berasal dari senyawa kimia sintesis yang dapat merusak organisme non
target, resistensi hama, resurgensi hama, menimbulkan efek residu pada tanaman,
punahnya musuh-musuh alami dan serangga berguna lainnya serta kontaminasi pada
lingkungan seperti pada tanah, air dan produk yang dihasilkan.
Tujuan dan manfaat penelitian ini ialah untuk mengetahui keefektifan
bioinsektisida nematoda entomopatogen Steinernema spp. dalam mengendalikan
Spodoptera spp.. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi teknologi alternatif
pengendalian Spodoptera spp. pada beberapa tanaman yang terserang Spodoptera
spp., yang ramah lingkungan sehingga dapat menekan pemakaian bahan kimia yang
dapat merusak lingkungan.
Penelitian ini merupakan percobaan faktorial dengan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan diulang sebanyak lima kali. Perlakuannya
meliputi: A adalah Dosis 125.000 IJ/m2
, B adalah Dosis 250.000 IJ/m2
, C adalah
Dosis 375.000 IJ/m2
, D adalah Dosis 500.000 IJ/m2
, E adalah Dosis 625.000 IJ/m2
.
Tingkat mortalitas larva Spodoptera spp. yang paling banyak pada dosis
125.000 IJ/m2
yaitu mencapai 100% pada pengamatn ke empat (72 jam).
Adanya
peningkatan mortalitas Spodoptera sp. diduga disebabkan karena pada waktu yang
semakin bertambah, nematoda Steinernema spp. semakin tumbuh dan berkembang
di dalam tubuh Spodoptera sp., sehingga tingkat kerusakan jaringan tubuh serangga
semakin tinggi pula. Tingkat kerusakan jaringan tubuh yang tinggi dapat
menyebabkan mortalitas serangga. Hasil pengamatan mortalitas Spodoptera sp.
menunjukkan bahwa jumlah mortalitas Spodoptera sp. mencapai maksimal pada
pengamatan ke empat setelah aplikasi.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa dari perlakuan dosis yang berbeda
setelah apliksai, persentase kematian larva Spodoptera spp. instar 3 tidak
menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan (tn). Meskipun tidak ada perbedaan
nyata dari hasil analisis, tetapi ada kecenderungan peningkatan mortalitas
Spodoptera spp. pada pengamatan 1 (12 jam), 2 (24 jam), 3 (48 jam) dan ke 4 (72
jam) yang semakin meningkat.