Abstract :
Guru PAUD masih dipandang sebagai profesi yang tidak menjanjikan
masa depan yang lebih baik, tetapi jumlah guru PAUD di Kecamatan Semarang
Selatan relatif banyak dan semakin meningkat. Fenomena ini terjadi karena
adanya motivasi pribadi yang mengarah kepada pengakuan di lingkungan
masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengungkap motif yang mendorong
seseorang untuk menjadi guru PAUD.
Obyek penelitian ini adalah guru PAUD di Kecamatan Semarang Selatan
berjumlah 174 orang. Dari jumlah tersebut diambil sampel dengan purposive
sampling 95 guru dari 18 PAUD. Pengumpulan data dengan menggunakan
kuesioner. Data yang dibutuhkan adalah data motif fisiologis, motif sosial, motif
harga diri, motif aktualisasi diri, dan keputusan menjadi guru PAUD. Pengolahan
data dimulai dari pengeditan, pengkodean, pemberian skor dengan skala likert dan
tabulasi. Analisis data menggunak ananalisis regresi berganda.
Persamaan terebut menunjukkan bahwa seseorang memutuskan menjadi
guru PAUD (Y) karena empat motif yaitu motif fisiologis (X1), motif sosial (X2),
motif harga diri (X3), dan motif aktualisasi diri (X4). Keempat motif tersebut
berpengaruh positif dan signifikan. Dari keempat motif tersebut harga diri
merupakan motif yang paling dominan dengan tingkat signifikasi 0.000 dan(?)
0,364. Artinya motif seseorang menjadi guru PAUD adalah demi gengsi atau
nama baik.