Abstract :
Tujuan penelitian ini adalah: 1. Mendeskripsikan faktor-faktor
penyebab sikap anti sosial pada anak Panti Asuhan Darussalamah Gebog
Kudus, 2. Mengatasi sikap anti sosial melalui konseling behavioristik teknik
modeling simbolik pada anak Panti Asuhan Darussalamah Gebog Kudus.
Konseling behavioristik adalah proses pemberian bantuan dari
konselor kepada konseli untuk mengubah perilaku bermasalah menjadi
perilaku baru yang sesuai dengan lingkungan. Dalam penelitian ini, perilaku
bermasalah adalah anti sosial. Sikap anti sosial yaitu sikap yang
menyimpang tidak sesuai dengan norma yang ada dimasyarakat dan sikap
anti sosial menunjukkan ketidakmampuan dalam beradaptasi. Sikap anti
sosial apabila dibiarkan dan tidak dapat penanganan maka akan berdampak
buruk bagi kehidupan konseli. Untuk mengatasi sikap anti sosial maka
peneliti menggunakan konseling behavioristik dengan teknik modeling.
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti ialah studi kasus
dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Subyek yang diteliti adalah anak panti asuhan
Darussalamah, dengan jumlah tiga konseli.
Hasil penelitian studi kasus tentang sikap anti sosial pada anak panti
asuhan Darussalamah Gebog Kudus, perubahan sikap tersebut antara lain: 1.
Konseli berinisial M memiliki sikap anti sosial yang ditandai dengan sering
menyendiri dan berperilaku sesuka hati sehingga belum bisa berpikir
kedepan. Hal itu disebabkan oleh faktor internal yaitu karena kurang
nyaman dan merasa minder. Setelah dilaksanakan konseling individual
sebanyak tiga kali M sudah dapat menunjukkan perubahan pada sikapnya
yaitu dapat bergaul dengan teman-teman, dan dapat berpikir kedepan. 2. Konseli berinisial MAR memiliki sikap anti sosial yang ditandai degan
sering berbicara kasar dan menyakiti hati teman, dan kurang bisa mematuhi
peraturan. Hal itu disebabkan oleh faktor internal yaitu mencari perhatian,
dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan luar karena sering
keluar malam. Setelah dilaksanakan konseling individual sebanyak tiga kali
maka ada perubahan sikap pada MAR, perubahan sikap tersebut antara lain
dapat akrab dengan teman, menghargai orang lain, dan mentaati peraturan.
3. Konseli berinisial RD memiliki sikap anti sosial yang ditandai dengan
kurang bertanggung jawab dan mementingkan diri sendiri. Hal itu
disebabkan oleh faktor internal yaitu merasa malas dan faktor eksternal yaitu merasa kurang diperhatikan. Setelah diberikan layanan konseling individual sebanyak tiga kali ada perubahan pada sikap anak tersebut antara
lain dapat berrtanggung jawab dan peduli pada orang lain.
Berdasarkan penerapan konseling behavioristik dengan teknik
modeling yang peneliti lakukan sebanyak tiga kali, dapat disimpulkan
bahwa konseling behavioristik dengan teknik modeling dapat sangat
membantu peneliti untuk mengatasi sikap anti sosial.