DETAIL DOCUMENT
MENJADI GEREJA BAGI SESAMA : PENDIDIKAN KRISTIANI UNTUK ANAK DALAM KONTEKS PLURALITAS AGAMA DI GEREJA KRISTEN PASUNDAN
Total View This Week0
Institusion
Universitas Kristen Duta Wacana
Author
01052010, ROBERT NIXON KINDANGEN
Subject
BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc 
Datestamp
2021-05-24 02:01:14 
Abstract :
Gereja Kristen Pasundan (GKP) berada dalam konteks masyarakat Jawa bagian barat yang majemuk baik suku, agama, budaya daerah dan status sosial ekonomi. Menyikapi konteks GKP ini, dalam Rencana Kerja Dasar Gereja Kristen Pasundan (RKD-GKP) tahun pelayanan 2007-2012 dicanangkan visi yaitu, GKP menjadi gereja bagi sesama. Visi ini kemudian dijabarkan dalam misi yaitu : Bersekutu, Melayani dan Bersaksi untuk Menyatakan Kasih, Sukacita, Kebenaran, Keadilan dan Damai Sejahtera kepada Sesama Manusia di tengah Kehidupan,1 yaitu lingkaran sesama manusia yang menerobos batas-batas yang memisahkan kita dari kelompok di luar kita.2 Dengan visi menjadi Gereja bagi Sesama menunjukkan bahwa GKP mau menjadi gereja yang dapat menerima kepelbagaian termasuk kepelbagaian agama. Namun bukan hal yang mudah untuk merealisasikan visi ini menjadi konkret dalam jemaat khususnya mengenai pluralitas agama. Agama-agama termasuk agama Kristen melihat dirinya dengan kelebihan tertentu, karena ia merupakan pengungkapan iman akan wahyu khusus,3 hal ini menjadi faktor penghambat dalam menerima dan menghargai agama-agama lain. Selain itu hubungan antara agama diwarnai stigma dan kesalahpahaman, seperti pola hubungan antara umat beragama di Jawa bagian barat. Khususnya bagi Kristen dan Islam, pola hubungan ini bisa terlihat dari pengrusakan rumah ibadah, intimidasi, persepsi negatif tentang Islam dalam lingkungan Kristen dan sebaliknya, dan seringnya muncul istilah Kristenisasi di kalangan Islam. Namun, di sisi lain, pluralitas agama dapat menjadi potensi yang saling memperkaya, mengoreksi dan memperdalam paham serta penghayatan iman dan dapat bekerja sama demi keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan.4 Hal ini terjadi jika pemahaman bahwa kepelbagaian atau pluralitas agama yang ditunjukkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dalam hal ajaran, upacara, struktur hirarkis, praksis moral, dan kitab suci tidak mengurangi kadar keyakinan akan kebenaran suatu agama.5 Hal ini juga disadari oleh GKP sehingga pola hubungan yang dilandasi oleh hubungan curiga dalam banyak kesempatan sudah coba difasilitasi dengan memulai dialog antar umat beragama, termasuk antara agama Kristen dan Islam. Dialog dengan penganut agama yang lain menjadi perwujudan dari ajaran GKP tentang pluralitas agama yaitu, GKP meyakini bahwa Allah bisa berada dan berkarya di mana saja termasuk agama lain, sekalipun demikian tidak berarti semua agama sama saja dan relatif kebenarannya. Sikap GKP adalah toleran dan inklusif yang mendapat topangan dari keyakinan Allah yang mempunyai rencana dan karya yang tidak dibatasi siapapun. Dalam semangat ini tugas utama Gereja untuk bersaksi bagaimana pengalaman kasih Allah yang terjadi di lingkungan kekristenan, bersaksi bahwa Allah yang menjadi manusia memungkinkan keselamatan menjadi milik bagi yang mengimaninya.6 Ajaran GKP ini sejalan dengan pandangan teologi inklusivisme, yang oleh Pinnock dan dikutip oleh Paul F. Knitter didefinisikan bahwa ?pandangan inklusif percaya bahwa, karena Tuhan itu hadir di dalam dunia (secara nyata), rahmat Tuhan juga berada di antara sesama manusia, mungkin, bahkan di dalam agama-agama (secara konklusi). Itu berarti agama-agama bisa berperan di dalam penyelamatan manusia, suatu peranan persiapan untuk Injil Kristus yang di dalamNya hanya terdapat keselamatan sempurna. ?Atau dengan kata lain Allah bisa menyelamatkan di luar batas-batas nyata agama Kristen.7 Pandangan inklusif ini juga disebut solusi atas dasar rahmat yang lebih luas (the wider mercy solution) merupakan bagian model penggantian yang lebih mengarah pada model pemenuhan, karena semua unsur penting dalam solusi atas dasar rahmat yang lebih luas ini bisa ditemukan di dalam Model Pemenuhan dari gereja Roma Katolik dan Protestan (Aliran Utama).?8 Model pemenuhan 9 menekankan kebenaran dalam agama-agama lain merupakan persiapan bagi Injil dan mendapatkan kepenuhannya di dalam Kristus. Model yang dipakai oleh Paul F. Knitter berkembang dari model-model yang dia pakai sebelumnya10, yaitu Model Eksklusif, Model Inklusif dan Model Pluralis. Menurut model eksklusif, Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan dan posisi agama Kristen sebagai terang bagi agama-agama lain yang masih ada dalam kegelapan. Menurut model inklusif, Tidak ada keselamatan di luar Kristus, namun keselamatan bisa ada dalam agama-agama lain melalui rahmat dan kehadiran Kristus yang berkarya secara tersembunyi hanya melalui agama Kristen. Sedangkan menurut model pluralis, agama agama merupakan jalan keselamatan dan keunikan Yesus Kristus adalah sesuatu yang relatif yang berlaku bagi yang percaya kepada-Nya. Menurut model-model ini, ajaran GKP berada pada model inklusif. Ajaran GKP yang toleran dan inklusif tercapai dengan baik jika diwujudkan melalui muatan tentang agama-agama lain yang memadai dalam Pendidikan Kristiani GKP di semua kategori usia, yaitu sejak sekolah minggu sampai lanjut usia. Sebagai awal, saya mencoba melihat muatan di buku Bahan Mengajar Sekolah Minggu Gereja  
Institution Info

Universitas Kristen Duta Wacana