Abstract :
Pada tahun 2017, Pocari Sweat meluncurkan sebuah produk documentary
storytelling di media sosial yang berjudul Born to Sweat. Pocari Sweat merupakan
perusahaan pertama di Indonesia yang mengimplementasikan teknik documentary
storytelling sebagai strategi konten di media sosial. Mengingat banyaknya
manfaat serta kelebihan yang ditawarkan teknik documentary storytelling,
khususnya dalam meraih social customer engagement, penulis merasa bahwa
topik ini penting untuk dijadikan sebagai bahan penelitian.
Tujuan dari penelitian ini antara lain adalah untuk mengetahui bagaimana
proses pembuatan documentary storytelling Born to Sweat di media sosial
berdasarkan konsep creative nonfiction menurut Bernard (2011). Selain itu
penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana social customer
engagement yang dibangun melalui sport documentary Born to Sweat
berdasarkan konsep hierarchy of engagement process menurut Evans & Cothrel
(2014).
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian
studi kasus menurut Yin (2018). Teknik pengumpulan data dilakukan penulis
melalui beberapa sumber yaitu wawancara mendalam, dokumentasi, serta
observasi langsung. Lalu, penulis melakukan teknik analisis data dengan
menggunakan pattern matching untuk melihat suatu kontras maupun keselarasan
antara hasil penelitian dengan konsep-konsep yang penulis gunakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Born to Sweat telah
mengimplementasikan tahapan creative nonfiction Bernard (2011) dalam hal
pemilihan karakter, pemilihan objektif, penyusunan ketegangan, serta dalam
proses engagement dengan khalayaknya. Selain itu, penulis juga menemukan
bahwa terdapat peningkatan jumlah likes serta comments yang signifikan di
Instagram sejak episode pertama Born to Sweat diluncurkan. Namun belum
ditemukan adanya peningkatan jumlah reply serta post dari khalayak. Oleh karena
itu, penulis menyimpulkan bahwa sport documentary Born to Sweat mampu
membangun social customer engagement di media sosial sampai kepada tahapan
creation.