Abstract :
Perdagangan bebas dimana beragam budaya yang berasal dari berbeda bangsa, negara, bahasa, dan
suku bangsa yang diwakilkan oleh individu atau suatu lembaga perusahaan terjadi beriring dengan
terbukanya pasar international yang sedang marak terjadi. Fenomena yang sekarang dihadapi
adalah bisnis lintas budaya, hal tersebut dipicu oleh adanya MEA atau Masyarakat Ekonomi
ASEAN yang merupakan fenomena bisnis lintas budaya terbesar yang terjadi di Indonesia.
Fenomena yang akan diteliti lebih dalam adalah komunikasi bisnis lintas budaya yang dilakukan
oleh pengusaha beretnis Tionghua dan pengusaha beretnis Jepang pada PT. Tifico Fiber Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi lintas budaya antara pengusaha
Tionghua dan pengusaha Jepang sertamengetahui hambatan komunikasi lintas budaya yang terjadi
antara kedua pelaku bisnis. Peneliti juga ingin meneliti mengenai taktik yang digunakan untuk
menghadapi pebisnis yang memiliki perbedaan etnis dan cara menyelesaikan serta menanggapi
masalah yang ditemui saat berkomunikasi dengan lawan yang berasal dari etnis dan kebudayaan
yang berbeda.
Penelitian ini menggunakan teori akomodasi komunikasi, identitas sosial, high context dan low
context untuk menganalisa hambatan serta strategi yang digunakan oleh pengusaha etnis Tionghua
dan Jepang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, data yang diperoleh
melalui wawancara mendalam terhadap subjek yang diteliti.
Hasil temuan penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hambatan seperti perbedaan budaya, gaya
komunikasi, sifat etnosentrisme, pemahaman budaya, dan bahasa tubuh yang mempengaruhi
proses komunikasi dan menimbulkan hambatan. Peneliti menemukan bahwa strategi yang
digunakan untuk mengatasi hambatan komunikasi lintas budaya yang dihadapi adalah akomodasi
komunikasi. Pebisnis Tionghua melakukan strategi konvergensi untuk memperlancar proses bisnis
dan menjaga hubungan yang baik antara kedua belah pihak.