Abstract :
Krisis ekonomi 1997/1998 tidak hanya berdampak negatif terhadap stabilitas
perekonomian domestik tetapi juga membawa perubahan pada kerangka kebijakan
moneter yang digunakan oleh negara-negara di ASEAN. Terdapat tiga negara
ASEAN yaitu Thailand, Filipina dan Indonesia yang menerapkan kerangka
kebijakan moneter IT. Kerangka kebijakan ini fokus pada target inflasi yang telah
ditetapkan dan juga menuntut kebijakan moneter untuk tetap menjalankan salah
satu fungsi utamanya untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Secara empiris, Negara IT mampu menurunkan tekanan terhadap pasar valuta
asing akan tetapi krisis ekonomi kembali terjadi di tahun 2008 dan tekanan mata
uang domestik yang cukup besar di tahun 2018 Pada penelitian ini, digunakan
indikator EMP untuk melihat seberapa besar tekanan terhadap pasar valuta asing
negara IT di ASEAN. Menurut Panday (2015), EMP adalah persentase perubahan
nilai tukar dan atau perubahan cadangan devisa atas basis moneter dan atau
perubahan suku bunga relatif. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui faktorfaktor
apa saja yang memengaruhi EMP sehingga dapat dijadikan masukan bagi
otoritas moneter dalam mengendalikan tekanan terhadap pasar valuta asing.
Metode ekonometrika yang digunakan adalah analisis regresi data panel dengan
periode data 2010.Q1-2018.Q4.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kredit domestik signifikan secara
negatif memengaruhi EMP. Tanda koefisien pada variabel kredit domestik tidak
sesuai dengan teori yang ada mengindikasikan bahwa pertumbuhan kredit
domestik juga sejalan dengan peningkatan net capital flows ke negara domestik.
Variabel neraca transaksi berjalan dan inflasi AS signifikan secara negatif
memengaruhi EMP sedangkan variabel PDB riil tidak signifikan memengaruhi
EMP.