DETAIL DOCUMENT
Analisis Kemiskinan Multidimensi dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara
Total View This Week0
Institusion
Universitas Padjadjaran
Author
Ainistikmalia, Nurin
Subject
 
Datestamp
2021-11-23 00:00:00 
Abstract :
Otonomi seyogyanya memberikan dampak yang baik terhadap kemajuan suatu daerah, terutama dalam isu pembangunan utama yakni pengentasan kemiskinan dan pencapaian ketahanan pangan. Namun demikian, kinerja Kalimantan Utara sejak tahun 2015 sampai dengan 2018 terlihat belum signifikan. Angka kemiskinan masih berada jauh di atas provinsi induknya (Kalimantan Timur). Demikian pula, ketimpangan dan ketidakmerataan masih menjadi isu utama provinsi ini. Hal ini dapat diketahui dari angka Gini Rasio yang masih cukup tinggi serta Indeks Keparahan Kemiskinan yang cenderung meningkat. Sementara itu, dalam lima tahun terakhir, Kalimantan Utara juga masuk dalam sepuluh besar provinsi dengan persentase penduduk rawan pangan tertinggi. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini diantaranya ialah menganalisis kemiskinan multidimensi, mendapatkan informasi potret derajat ketahanan pangan rumah tangga menurut wilayah dan karakteristik rumah tangga, mengetahui faktor-faktor yang menentukan ketahanan pangan rumah tangga serta melihat bagaimana pengaruh status kemiskinan multidimensi terhadap ketahanan pangan rumah tangga di Provinsi Kalimantan Utara. Menggunakan Susenas 2018 dan Multidimentional Poverty Index (MPI) Alkire-Foster, dengan 4 dimensi (moneter, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar) didapatkan hasil bahwa dimensi moneter memiliki peran dan berkontribusi penting terhadap kemiskinan multidimensi, namun tidak menjadi faktor utama penyebab kemiskinan di Provinsi Kalimantan Utara. Secara multidimensi, didapatkan fakta bahwa terdapat penyebab kemiskinan dari dimensi lain yang lebih dominan. Dimensi tersebut ialah dimensi infrastruktur dasar yakni pada air minum layak sebesar 28,86 persen, dimensi pendidikan yakni pada lama sekolah sebesar 24,98 persen. Sementara dimensi moneter hanya memberi sumbangan terhadap deprivasi sebesar 6,05 persen. Penelitian ini juga menemukan fenomena di mana kemiskinan perdesaan menunjukkan kecenderungan lebih tinggi dibandingkan kemiskinan perkotaan pada hampir semua level Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara. Derajat ketahanan pangan diukur dengan metode Johnsson&Toole, sedangkan determinan ketahanan pangan menggunakan Ordered logistic. Terdapat enam variabel determinan yang berpengaruh terhadap derajat ketahanan pangan. Rumah tangga dengan status miskin multidimensi, tinggal di perdesaan, kepala rumah tangga berpendidikan rendah, kepala rumah tangga berusia muda dengan jumlah anggota rumah tangga lebih banyak dan mengonsumsi beras lebih banyak berpeluang lebih besar menjadi rumah tangga tidak tahan pangan. Disimpulkan bahwa kemiskinan sangat berpengaruh terhadap ketahanan pangan. Penelitian ini membuktikan bahwa rumah tangga miskin multidimensi sangat berpeluang besar menjadi rumah tangga tidak tahan pangan. 

Institution Info

Universitas Padjadjaran