DETAIL DOCUMENT
Komunikasi Terapeutik Hypnobirthing
Total View This Week6
Institusion
Universitas Padjadjaran
Author
P, Melissa Ayu
Subject
 
Datestamp
2021-11-23 00:00:00 
Abstract :
Melissa Ayu Permatasari. 210110090268. “Komunikasi Terapeutik Hypnobirthing. Dr. H. Antar Venus, M.A., Comm., sebagai pembimbing utama, dan Ira Mirawati, S.Sos., M.Si., sebagai pembimbing pendamping. Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan komunikasi dan komunikasi terapeutik dalam salah satu metode persiapan persalinan, yaitu hypnobirthing. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif. Objek dalam penelitian ini adalah terapis hypnobirthing di Galenia Mom and Child Center dan Ibu hamil yang sedang atau pernah mengikuti kelas hypnobirthing. Hasil penelitian ini menggunakan teknik analisis Cresswell yang terdiri dari tahap deskripsi, analisis tema dan penonjolan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para Ibu hamil mengikuti kelas hypnobirthing karena di dorong oleh kebutuhan akan rasa nyaman dan persiapan untuk menghadapi persalinan. Komunikasi interpersonal tidak dapat dilepaskan dari komunikasi terapeutik, karena keduanya menggunakan teknik yang sama. Tahapan komunikasi terapeutik di Galenia Mom and Child Center terdiri atas tahap awal, tahap tengah atau tahap kerja dan tahap akhir atau terminasi. Tahapan hypnobirthing terdiri atas tujuh tahapan, yaitu relaksasi dan induksi, isolasi, tes, konsolidasi, implantasi dan terminasi atau awakening. Terapis Galenia MCC menjadikan panduan dari Marie F. Mongan, founder hypnobirthing. Pada dasarnya, hypnobirthing adalah pemanfaatan hipnosis untuk bidang kebidanan. Terapis akan menemui hambatan ketika melakukan hypnobirthing, apabila peserta memiliki pertahanan pikiran tinggi dan tidak dapat mempercayai terapisnya, sehingga tidak bisa memasrahkan diri. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan komunikasi, dengan melakukan pendekatan lebih dalam kepada peserta. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki peranan dalam terapi atau penyembuhan, tidak cukup hanya dengan bantuan medis apabila tidak terdapat komunikasi yang baik antara terapis atau dokter dengan pasiennya. 

Institution Info

Universitas Padjadjaran