Abstract :
Ozon merupakan molekul yang terdiri dari 3 atom O2 (oksigen) yang terbentuk akibat penggabungan radikal bebas oksigen dengan molekular oksigen, ozon bersifat tidak stabil dan reaktif. Ozon berfungsi sebagai desinfektan, dekolorisasi, serta untuk menghilangkan bahan organik. Ozon dapat dibentuk dengan cara elektolisis, radiasi kimia dan corona discharge. Pembentukan ozon dengan corona discharge paling banyak digunakan hingga saat ini. Ozon yang bersifat tidak stabi dan reaktif ini memiliki waktu retensi tergantung dari lingkungannya seperti suhu, pH dan kandungan mineral. Ozon dapat diaplikasikan pada bahan pangan padat maupun bahan pangan cair, diantaranya air, susu, sayur-sayuran dan buah-buahan yang memiliki variasi waktu, suhu, nilai pH dan konsentrasi mineral yang dikandungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh suhu, pH, jenis air dan konsentrasi mineral terhadap waktu retensi ozon dari proses ozonisasi. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental (Explanatory Research) dan dianalisis deskriptif menggunakan analisis uji beda t dengan membandingkan perlakuan diantaranya suhu (5°C, 25°C,dan 40°C), jenis air (aquades, aquabides, dan air tanah (tap water), konsentrasi mineral Ca (0 ppm, 125 ppm, dan 250 ppm) dan nilai pH (5,5; 7; dan 9,2). Proses ozonisasi dengan suhu rendah (5°C) memiliki memiliki waktu retensi yang lama dibandingkan dengan suhu tinggi, sampel yang tidak mengandung mineral memiliki waktu retensi lama dibandingkan sampel yang mengandung mineral tinggi, penambahan mineral Ca tidak berdampak terhadap waktu retensi ozon, selain itu ozonisasi pada suasana pH asam memiliki waktu retensi yang lama dibandingkan dengan suasana pH basa. Lamanya waktu ozonisasi 5 dan 10 menit memiliki waktu retensi ozon yang tidak berbeda.