Institusion
Universitas Bung Hatta
Author
Fitri, Yumelia
Syofiani, Syofiani
Romi, Isnanda
Subject
L Education (General)
Datestamp
2023-07-12 04:06:54
Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) warna lokal Minangkabau
dalam sistem pelaksanaan perkawinan yang terdiri dari, pinang-meminang, batimbang
tando, pernikahan (akad nikah), manjapuik marapulai, dan manjalang dalam novel
Mengurai Rindu karya Nang Syamsuddin; (2) warna lokal Minangkabau dalam konsep
kehidupan sosial budaya yang terdiri dari, individu dan masyarakat, harga diri, budaya
malu, budi, rasa dan periksa dalam novel Mengurai Rindu karya Nang Syamsuddin. Teori
yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori warna lokal yang dikemukakan Abrams
(dalam Kusmarwanti, 2008), teori sistem pelaksanaan perkawinan Minangkabau yang
dikemukakan Navis (1986), dan teori konsep-konsep kehidupan sosial budaya masyarakat
Minangkabau yang dikemukakan Asri (2014). Jenis penelitian adalah kualitatif, metode
deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah berupa kata, frasa, klausa, kalimat, dan
paragraf yang menggambarkan warna lokal Minangkabau dalam novel Mengurai Rindu
karya Nang Syamsuddin. Hasil analisis data ditemukan bahwa: (1) warna lokal
Minangkabau dalam sistem pelaksanaan perkawinan novel Mengurai Rindu karya Nang
Syamsuddin terdiri dari, pinang-meminang bahwa yang datang meminang adalah pihak
keluarga perempuan, mamaklah yang bertugas menjadi pemimpin saat melakukan
peminangan ditemukan sebanyak 3 data. Batimbang tando (pertunangan) yaitu adanya
sanksi atau denda bagi yang memutuskan pertunangan, seperti membayar dua kali lipat
tanda pertunangan tersebut ditemukan sebanyak 2 data. Pernikahan (akad nikah), adanya
urusan jemput menjemput sebelum akad nikah, adanya kepercayaan bahwa hari Jumat
merupakan hari yang terbaik untuk melaksanakan akad nikah, setelah akad nikah
marapulai akan kembali ke rumah orang tuanya ditemukan sebanyak 7 data. Manjapuik
marapulai, adanya syarat-syarat penjemputan marapulai, seperti membawa Roki
(pakaian lengkap marapulai), sepasang sepatu, dan adanya pasumandan ditemukan
sebanyak 9 data. Manjalang yaitu adanya tata cara dan tradisi penyiraman beras kunyit
pada pengantin saat prosesi manjalang ditemukan sebanyak 4 data. (2) warna lokal
Minangkabau dalam konsep kehidupan sosial budaya novel Mengurai Rindu karya Nang
Syamsuddin terdiri dari, individu dan masyarakat bahwa adanya rasa kebersamaan antara
individu dan masyarakat Minangkabau ditemukan sebanyak 6 data, konsep harga diri
yaitu sikap mempertahankan harga diri dan tidak ingin dipandang rendah oleh orang lain
ditemukan sebanyak 10 data. Budaya malu, adanya rasa malu bagi sesorang apabila tidak
sesuai dengan adat atau kebiasaan yang berlaku ditemukan sebanyak 14 data. Budi yaitu
adanya sikap balas budi, sikap menghormati, dan sikap saling membantu ditemukan
sebanyak 10 data. Rasa dan periksa (raso pareso) yaitu sikap merasakan hal yang sama,
yang memakai hukum? piciak jangek, sakik dek awak, sakik dek urang? dan sikap
mempertimbangkan sesuatu sesuai dengan kepatutan atau kepantasan, yang memakai
ukuran ?alua jo patuik? ditemukan sebanyak 29 data. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa warna lokal Minangkabau yang terkandung dalam novel Mengurai
Rindu karya Nang Syamsuddin meliputi sistem pelaksanaan perkawinan Minangkabau
dan konsep-konsep kehidupan sosial budaya masyarakat Minangkabau merupakan sebuah
kekhasan yang harus dipertahankan sebagai kearifan lokal. Kata Kunci: warna lokal, Minangkabau, novel Mengurai Rindu