Abstract :
Prevalensi penderita stroke tidak hanya banyak terjadi di negara maju tetapi juga di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah jantung dan kanker. Masalah kesehatan yang timbul akibat stroke sangat bervariasi tergantung kepada luasnya daerah otak yang mengalami infark (nekrosis iskemik akibat adanya penyumbatan pembuluh nadi) dan lokasi pembuluh nadi yang terkena. Retensi urin 21%-47% dapat terjadi pada pasien stroke, tetapi kejadian inkontinensia urin lebih sering terjadi yakni 21-35% pada pasien stroke fase akut. Inkontinensia urin (IU) oleh International Continence Society (ICS) didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak dapat dikendalikan atau dikontrol; secara objektif dapat diperlihatkan dan merupakan suatu masalah sosial atau higienis. Inkontinensia urin dapat menimbulkan dampak yang merugikan dan mempengaruhi kualitas hidup pasien. Berdasarkan dari permasalahan diatas dilakukan sebuah penelitian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penanganan inkontinesia urin, didapatkan hasil bahwa penanganan inkontinensia urin khususnya dalam hal pengelolaan urinnya dianggap masih memiliki beberapa kekurangan, diantaranya penggunaan dower catheter menetap, hal ini cukup membuat pasien menjadi tidak nyaman dan merasa nyeri pada area genetalia. Hal tersebut menjadi acuan dalam melakukan pemasangan kateter menetap menggunakan Lidocain gel. Lidocain gel ini merupakan hasil kombinasi dari dua komponen pelumas (gel) dan lidocain (untuk anestesi local) yang efektif digunakan untuk mengurangi rasa nyeri saat pemasangan dower catheter menetap.
Kata kunci: dower catheter, Inkontinensi Urin, Stroke